RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belakangan mulai terasa di Banjarmasin. Di tengah kondisi tersebut, layar monitor pemantau kualitas udara atau Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin justru raib dicuri.
Meski layar hilang, perangkat utama AQMS masih berfungsi dan tetap melakukan pengukuran kualitas udara. DLH juga menyiapkan akses daring agar masyarakat tetap dapat memantau kondisi udara.
“Yang hilang itu layarnya (monitor, red) saja. Alat utamanya masih ada dan tetap bisa mengukur kualitas udara di Banjarmasn,” ujar Kepala DLH Kota Banjarmasin, Jefry Fransyah, Kamis (3/9/2026) pagi.
Namun, pembacaan AQMS sempat mengalami gangguan sekitar dua hari lalu. Setelah diperbaiki, masih ada satu indikator yang belum terbaca.
“Secara kasatmata memang kondisi udara beberapa hari ini agak pekat dan baunya terasa. Tapi untuk ukuran pastinya, kami masih menunggu teknisi dari pusat yang saat ini tengah memperbaiki, karena satu indikator belum terbaca,” jelasnya.
Meski demikan masyarakat tetap bisa memantau kualitas udara melalui laman https://ispu.kemenlh.go.id/webv5/#/ . DLH juga berkoordinasi dengan Diskominfotik Banjarmasin agar tautan tersebut disebarluaskan melalui media sosial (Medsos) Pemerintah.
Di tengah kondisi asap, Jefry mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar, masyarakat diminta menggunakan masker, memperbanyak minum air putih dan menjaga kesehatan karena paparan asap berpotensi meningkatkan risiko ISPA.
“Kalau terpaksa keluar rumah, jangan lupa pakai masker. Perbanyak minum air putih dan jaga kesehatan,” imbaunya.
Jefry juga meminta warga tidak membakar sampah sembarangan. Jika menemukan aktivitas pembakaran sampah, masyarakat dapat melapor melalui Call Center 122 agar segera ditindaklanjuti.
Untuk memperkuat pemantauan, DLH berencana menambah dua unit alat pemantau kualitas udara portabel yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
“Kami ada perencanaan pembelian dua alat lagi, tetapi yang portable, yang bisa dipindah,” ujarnya.
Kondisi asap yang mulai pekat dirasakan warga. Salah seorang warga Jalan Veteran, Kiki, mengaku kabut asap mulai mengganggu aktivitas sehari-harinya. Ia kini memilih menggunakan masker setiap kali beraktivitas di luar rumah.
“Kalau tidak pakai masker, rasanya sesak napas. Kabutnya tebal sekali,” ucapnya.
Paparan asap juga mulai membuatnya mengalami keluhan pada saluran pernapasan. Kiki mengaku kerap batuk terutama pada pagi hari. Asap bahkan masuk hingga ke dalam rumah pada malam sampai pagi.
“Biasanya batuk dan bersin kalau pagi. Asapnya kan dari malam sampai pagi, jadi saat tidur pun asap bisa masuk ke rumah,” ujarnya.
Editor : M Oscar Fraby