Air PAM Mati Setengah Bulan, Warga Kuin Cerucuk Banjarmasin Kesulitan Air Bersih

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:31 WIB

KERING: Warga Gang Gondang Mas, Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat memperlihatkan keran air yang mati total setelah sebelumnya mengalami tekanan rendah. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
KERING: Warga Gang Gondang Mas, Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat memperlihatkan keran air yang mati total setelah sebelumnya mengalami tekanan rendah. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Warga Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat, menghadapi krisis air bersih di tengah musim kemarau. Di Gang Gondang Mas, sejumlah warga mengaku aliran air PAM Bandarmasih sudah mati total sekitar setengah bulan.

 

Persoalan itu memperparah kondisi yang sebelumnya sudah dikeluhkan warga. Jauh sebelum pembatasan distribusi air diberlakukan, tekanan air PAM Bandarmasih di kawasan tersebut disebut tidak pernah benar-benar normal.

Saat wartawan mendatangi Gang Gondang Mas, Jalan Kuin Cerucuk, keluhan serupa datang dari sejumlah rumah. Warga satu per satu keluar dan memperlihatkan kondisi keran yang nyaris tidak mengalir.

Wadah dan jeriken untuk menampung air juga terlihat di depan rumah warga.

Aya (38), salah seorang warga, mengatakan aliran air di rumahnya kini mati total. Kalaupun sempat keluar, debitnya sangat kecil.

“Setengah bulan ini mati total. Kalau ada, paling titik-titik. Tapi sekarang seharian sampai semalaman dibuka kran, tidak jalan,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Menurut Aya, persoalan tekanan air sudah terjadi sebelum kemarau. Sebelumnya, air terkadang masih mengalir pada waktu tertentu, tetapi dengan tekanan sangat rendah.

“Dulu jarang juga. Kadang jalan, kadang tidak. Tidak normal,” katanya.

Warga Andalkan Air Sungai

Kondisi tersebut memaksa Aya dan warga sekitar mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WITA, mereka mengambil air dari sungai untuk kebutuhan selain konsumsi.

“Jam 6 kami mengambil air. Semua tetangga juga,” keluhnya.

Untuk minum dan memasak, Aya meminta air dari rumah keluarga. Ia bahkan membawa jeriken ke tempat kerja untuk mendapatkan air bersih.

“Bayangkan susahnya, kerja pun jadi tidak tenang karena urusan air di rumah selalu menjadi beban,” ungkapnya.

Aya berharap pelayanan air segera kembali normal. Terlebih, warga tetap memiliki kewajiban membayar tagihan setiap bulan.

“Harapannya air bisa jalan. Kita bayar terus tiap bulan,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Rusidah (64). Menurutnya, tekanan air di kawasan tersebut sejak lama tidak pernah benar-benar normal, bahkan sebelum musim kemarau.

Warga yang memiliki mesin pompa masih berpeluang mendapatkan air. Sebaliknya, warga tanpa pompa kesulitan karena tekanan air terlalu rendah.

“Pipa kecil. Beberapa kali orang PAM sudah ke sini, tapi tekanannya tidak pernah normal. Kalau tidak pakai mesin untuk menarik, tidak bisa,” ujarnya.

Saat pasokan tidak mencukupi, warga terpaksa mengambil air dari sungai. Bagi Rusidah yang sudah lanjut usia, kondisi itu menjadi beban tersendiri.

“Kalau kurang harus mengambil air di sungai. Aku ini sudah tidak bisa lagi turun naik mengambil air di sungai,” katanya.

Abdurrahman (70) juga mengaku persoalan tekanan rendah sudah berlangsung lama. Karena tidak menggunakan mesin pompa, ia menyebut aliran yang sampai ke rumahnya sangat sedikit ketika warga lain menggunakan alat penyedot.

Untuk minum dan memasak, Abdurrahman terkadang meminta air kepada tetangga, kemudian merebusnya. Sementara untuk mencuci dan kebutuhan lainnya, ia mengambil air dari sungai.

“Untuk minum kadang minta ke tetangga. Kalau membasuh dan lainnya mengambil air di sungai,” katanya.

Meski pelayanan air tidak selalu lancar, Abdurrahman mengatakan tagihan PAM tetap dibayar setiap bulan.

“Bayar terus tiap bulan. Harapannya supaya kembali lancar seperti biasa,” ucapnya.

PAM Siapkan Pipa 800 Milimeter

Direktur Utama PAM Bandarmasih Zulbadi membenarkan rendahnya tekanan air di Kuin Cerucuk. Saat dikonfirmasi mengenai distribusi air di kawasan sekitar terminal BBM Pertamina, ia mengakui tekanan di wilayah ujung Banjarmasin Barat tersebut masih rendah.

“Betul masih rendah,” jawab Zulbadi.

PAM Bandarmasih telah menyiapkan langkah optimalisasi jaringan untuk memperbaiki distribusi air ke wilayah tersebut.

Menurut Zulbadi, tahun ini PAM Bandarmasih berencana melelang pekerjaan pemasangan pipa berdiameter 800 milimeter menuju wilayah Banjarmasin Barat.

“Daerah tersebut ujung. Tahun ini kami akan lelangkan pekerjaan pemasangan pipa 800 ke Barat,” tutupnya. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
krisis air Banjarmasin Air PAM Kuin Cerucuk Tekanan air rendah Air bersih Banjarmasin PAM Bandarmasih