Lahan Pertanian di Banjarmasin Semakin Terbatas, Petani Milenial Jangan Cuma Jadi Wacana

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:35 WIB
PERTANIAN: Lahan pertanian di tengah keterbatasan ruang Kota Banjarmasin. Keberadaan lahan dinilai penting untuk mendukung pengembangan petani milenial dan menjaga ketahanan pangan.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)
PERTANIAN: Lahan pertanian di tengah keterbatasan ruang Kota Banjarmasin. Keberadaan lahan dinilai penting untuk mendukung pengembangan petani milenial dan menjaga ketahanan pangan.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Gagasan melahirkan petani milenial di Kota Banjarmasin jangan berhenti sebatas wacana.

Keterbatasan lahan pertanian justru menjadi tantangan yang harus dijawab agar anak muda memiliki ruang untuk terjun dan mengembangkan sektor pertanian.

Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Ridho Akbar mengatakan, salah satu persoalan yang paling banyak disoroti masyarakat adalah semakin terbatasnya lahan pertanian.

“Yang paling banyak dipertanyakan masyarakat adalah di Kota Banjarmasin kita sangat terbatas masalah lahan,” ujar Ridho saat menggelar konsultasi publik Raperda tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, lahan yang masih tersedia diharapkan tidak terus dialihfungsikan menjadi perumahaan. Keberadaan lahan menjadi faktor penting menjaga keberlangsungan sektor pertanian sekaligus membuka peluang bagi petani milenial.

Ia menegaskan, masukan masyarakat dalam konsultasi publik akan menjadi bahan pembahasan Raperda. Pihaknya mendorong persoalan alih fungsi lahan dan keberadaan petani milenial mendapat perlindungan yang jelas dalam regulasi.

“Dengan adanya pendapat ataupun masukan dari masyarakat, kita akan mendorong bagaimana alih fungsi lahan dan masalah petani milenial ini agar tercantum dan terlindungi di dalam perda,” jelasnya.

Sementara itu, warga Banjarmasin, Azmi, menilai sektor agribisnis masih memiliki peluang besar bagi generasi muda. Pertanian, menurutnya, tidak harus selalu identik dengan aktivitas konvensional di lahan terbuka.

Generasi muda dapat masuk melalui berbagai bidang, mulai dari smart farming, urban farming, industri benih, jasa alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pemasaran digital.

Menurut Azmi, perkembangan teknologi juga memungkinkan anak muda menghadirkan inovasi untuk menjawab persoalan pertanian, yang dampaknya dapat membantu meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.

“Pertanian bukan sektor usang, melainkan ruang terbuka bagi anak muda untuk berkreasi,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya mendorong generasi muda menjadi petani, tetapi juga memberikan ruang, fasilitas, pengetahuan, dan dukungan agar mereka mampu mengembangkan inovasi di sektor agribisnis.

“Di tangan generasi muda masa depan ketahanan pangan Indonesia,” pungkasnya.

Editor : Sutrisno
petani banjarmasin