RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Jumlah kasus kebakaran di Kota Banjarmasin memang menunjukkan penurunan. Namun, satu persoalan masih belum terjawab, yakni penyebab kebakaran yang marak terjadi di kawasan permukiman warga.
Pemerintah Kota Banjarmasin mencatat sebanyak 97 kasus kebakaran dalam periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Sementara menjelang akhir Agustus 2026, jumlahnya tercatat 79 kasus.
Angka itu lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Namun, belum ada hasil investigasi yang dapat menyimpulkan penyebab kebakaran secara pasti.
Selama ini, yang berkembang di masyarakat lebih banyak berupa dugaan dan kecurigaan. Salah satunya mengenai potensi arus pendek atau korsleting listrik.
Pasca sejumlah kebakaran, sejumlah saksi beberapa kali mengaku sempat melihat percikan sebelum api benar-benar membesar, terutama di instalasi listrik.
Kekhawatiran terhadap kondisi instalasi listrik pun dirasakan warga Jalan Prona II, Pemurus Baru, Banjarmasin Selatan.
Dalam dua bulan terakhir, kawasan tersebut telah mengalami tiga kali insiden kebakaran. Salah satunya terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Ketua RT setempat, Asmadi, mengaku warga hingga kini belum mengetahui pasti pemicu rentetan kebakaran tersebut.
“Sudah tiga kali dalam dua bulan ini. Saya juga bingung mengapa. Kalau kita tahu, warga bisa didorong berbenah,” ungkapnya.
Menurutnya, mengetahui penyebab maupun dugaan utama kebakaran menjadi modal penting untuk meningkatkan kewaspadaan warga.
Termasuk melakukan pembenahan terhadap fasilitas yang berpotensi rawan memicu kebakaran, seperti instalasi listrik.
Asmadi berharap ada perhatian terhadap kelayakan aliran listrik di kawasan permukimannya.
“Sejak 1982 warga sudah bermukim di sini. Mungkin arus kelistrikan yang harus menjadi perhatian,” harapnya.
Menurutnya, kebakaran menjadi peristiwa yang sangat merugikan warga. Selain harta benda, tempat tinggal juga dapat lenyap dalam waktu singkat.
“Banyak kerugian warga. Mulai harta benda sampai tempat tinggal ikut kehilangan,” tandasnya.
Pemeliharaan Instalasi Setiap 10 Tahun
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Banjarmasin, Hendro, mengatakan persoalan penyebab kebakaran memang tidak mudah dipastikan.
Terlebih, Pemko Banjarmasin saat ini belum memiliki fasilitas dan tenaga investigator kebakaran yang lengkap untuk menyimpulkan penyebab suatu insiden secara ilmiah.
Terkait dugaan korsleting, Hendro mengatakan pihaknya pernah melakukan koordinasi bersama sejumlah unsur, termasuk PLN. Dalam koordinasi itu, persoalan pemeliharaan instalasi listrik turut menjadi perhatian.
Menurut Hendro, berdasarkan penyampaian pihak PLN dalam pertemuan tersebut, instalasi listrik masyarakat seharusnya mendapatkan pemeliharaan secara berkala.
“Idealnya setiap 10 tahun itu dilakukan pemeliharaan instalasinya,” ungkapnya, Kamis (27/8/2026).
Kecil Tapi Sering
Hendro juga membandingkan karakteristik kebakaran di Banjarmasin dengan kota-kota besar.
Menurutnya, dari sisi skala, kebakaran di Banjarmasin relatif lebih kecil. Namun, frekuensi kejadiannya justru cukup sering.
“Kalau kita ini skalanya kecil tapi sering,” sebutnya.
Kebakaran di kota besar di Indonesia, kata dia, dapat melibatkan bangunan besar dan membutuhkan waktu pemadaman yang terbilang lama.
Sementara di Banjarmasin, kebakaran kerap bermula atau berdampak pada bagian tertentu bangunan, seperti dapur maupun sebagian rumah.
Investigator Terkendala SDM dan Laboratorium
Sayangnya, pembentukan tenaga investigator kebakaran tidak dapat dilakukan secara instan.
Hendro menjelaskan, terdapat jenjang pendidikan dan pelatihan yang harus dilalui seorang personel sebelum dapat menjadi investigator.
“Investigator itu syaratnya banyak dan jarang dibuka,” jelas Hendro.
Pendidikan investigator juga masih terbatas. Salah satu pelatihan disebut tersedia di Ciracas melalui Kemendagri.
Namun, pembukaan kelas tidak selalu dilakukan. Jumlah peminat secara nasional juga disebut masih terbatas.
Selain itu, pembukaan pelatihan memerlukan jumlah peserta tertentu. Biaya pendidikan pun tidak sedikit.
Disdamkarmat Banjarmasin selama ini masih mengirimkan personelnya untuk mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan sesuai pembukaan kelas yang tersedia.
Namun, untuk pelatihan investigator, kesempatan tersebut belum terbuka karena keterbatasan peminat dan kuota.
Kendala tidak berhenti pada persoalan sumber daya manusia.
Menurut Hendro, keberadaan investigator juga harus didukung fasilitas laboratorium untuk menguji sampel dan membuktikan penyebab kebakaran.
“Kalau investigatornya SDM-nya saja, lab-nya tidak ada, kan bagaimana juga,” ucapnya.
Hendro menyebut fasilitas pendukung menjadi bagian penting sebelum seseorang dapat menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab suatu kebakaran.
“Bahkan, untuk pemeriksaan tertentu, sampel dari daerah masih harus dikirim ke kota yang memiliki fasilitas laboratorium lebih lengkap. Jadi masih ada keterbatasan SDM dan sarana,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti