Dampak Kabut Asap Karhutla, Kasus ISPA di Banjarbaru Tembus 1.142 per Pekan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:14 WIB
KEBAKARAN: Karhutla yang terjadi di Jalan Trikora, Jumat (21/8). Kondisi ini membuat kabut asap di Banjarbaru semakin pekat hingga menyebabkan kualitas udara memburuk. (Sheilla/Radar Banjarmasin) 
KEBAKARAN: Karhutla yang terjadi di Jalan Trikora, Jumat (21/8). Kondisi ini membuat kabut asap di Banjarbaru semakin pekat hingga menyebabkan kualitas udara memburuk. (Sheilla/Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kepungan kabut asap tebal di wilayah Kota Banjarbaru mulai berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat adanya lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun dua bulan terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, Siti Ningsih, mengungkapkan bahwa lonjakan penderita ISPA terpantau terus merangkak naik sejak memasuki bulan Juli hingga pertengahan Agustus.

"Pada Juli lalu angka ISPA masih berada di kisaran 700 kasus per minggu. Namun memasuki Agustus, angkanya melonjak hingga menembus seribu lebih per minggunya. Data terakhir kita sampai minggu ke-32 mencatat sebanyak 1.142 kasus ISPA dalam sepekan," ujar Siti Ningsih saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, selain ISPA, kelompok penyakit lingkungan lain seperti diare juga mengalami kenaikan, meski tidak menunjukkan tren yang terlalu signifikan.

Sementara itu, untuk kasus infeksi paru-paru berat atau pneumonia, grafiknya relatif stabil dan tidak mengalami kenaikan tajam.

Berdasarkan data Dinkes Banjarbaru, penderita pneumonia tercatat sebanyak 189 kasus pada Juni dan naik tipis menjadi 197 kasus sepanjang Juli. Penanganan kasus pneumonia dinilai masih sangat terkendali dibanding lonjakan ISPA.

Dari sisi demografi, rentang usia produktif antara 19 hingga 59 tahun menjadi kelompok paling rentan dan terbanyak terpapar ISPA.

Hal ini disinyalir lantaran tingginya mobilitas dan aktivitas masyarakat di luar ruangan selama periode kemarau dan kabut asap.

"Untuk lansia relatif lebih rendah karena mayoritas berada di dalam rumah saja, terkecuali yang memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid). Sementara untuk balita juga ada yang terpapar, namun secara persentase tidak mendominasi dibanding total keseluruhan kasus," terangnya.

Meski ISPA tergolong penyakit kategori ringan yang dapat disembuhkan melalui penanganan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, Dinkes memberikan penekanan khusus pada langkah pencegahan. 

Pasalnya, tingginya angka kesakitan ISPA berpotensi mengganggu produktivitas harian warga secara luas.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota Banjarbaru bergerak cepat. Wali Kota Banjarbaru telah menerbitkan Surat Edaran resmi yang mengimbau masyarakat untuk meminimalkan aktivitas di luar rumah selama paparan kabut asap tebal berlangsung.

"Jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah karena tuntutan pekerjaan, masyarakat sangat dianjurkan mengenakan masker dan menjaga daya tahan tubuh secara optimal agar tidak mudah terinfeksi," tegas Siti.

Terkait ketersediaan alat pelindung diri, Siti mengakui stok masker di Dinkes saat ini terbilang terbatas. 

Pembagian masker sejauh ini diprioritaskan melalui jaringan Puskesmas sesuai wilayah kerja, serta disalurkan kepada petugas lapangan seperti jajaran Polres yang berada di garda terdepan pemadaman lahan, khususnya di titik rawan seperti kawasan Pengayuan, Kecamatan Landasan Ulin.

Untuk mengantisipasi kebutuhan yang terus meningkat, Dinkes Banjarbaru kini tengah berkoordinasi dan mengajukan tambahan pasokan masker ke UPT Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan serta BPKAD Banjarbaru.

Hingga saat ini, pihak Dinkes Banjarbaru menegaskan belum menerima laporan adanya relawan pemadam kebakaran lahan atau petugas lapangan yang mengalami sakit berat atau dievakuasi akibat paparan asap masif di lokasi kritis. "Semoga jangan sampai. kita semua juga diberikan kesejatan," Imbuhnya.

Editor : Sutrisno
karhutla Kabut Asap ispa banjarbaru