AQMS Sudah Lama Rusak, DLH Banjarbaru Kesulitan Pantau Kualitas Udara

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:47 WIB
RUSAK: Alat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang terpasang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Masjid Agung Al Munawwarah mengalami kerusakan.
(Sheilla/Radar Banjarmasin)
RUSAK: Alat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang terpasang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Masjid Agung Al Munawwarah mengalami kerusakan. (Sheilla/Radar Banjarmasin)

BANJARBARU - Pengukuran kualitas udara di Kota Banjarbaru masih dilakukan secara manual. Kondisi ini terjadi setelah alat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang terpasang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Masjid Agung Al Munawwarah mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru kesulitan memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara cepat, terutama untuk mengetahui dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kabid Penegakan Hukum dan Pengendalian Lingkungan DLH Banjarbaru, Akhmad Arie Wijaya Abdur, mengatakan kerusakan perangkat pemantau kualitas udara tersebut sudah berlangsung cukup lama.

“Sudah kami sampaikan ke kementerian, yang mana alat sudah tidak berfungsi. Alat itu vital untuk mengetahui sejauh mana terdampak karhutla,” ujar Arie.

Menurut dia, berdasarkan hasil koordinasi terakhir, perbaikan AQMS belum dapat dilakukan karena adanya kendala efisiensi anggaran di tingkat kementerian. Penggantian komponen atau suku cadang yang rusak pun hingga kini masih tertunda.

Akibat tidak berfungsinya AQMS, DLH Banjarbaru terpaksa mengandalkan pemantauan kualitas udara secara manual. Namun, metode tersebut memiliki keterbatasan, terutama dari sisi kecepatan memperoleh data.

“Biasanya hasilnya keluar sehari atau dua hari. Sedangkan untuk aspek kedaruratannya, misalnya sudah beberapa hari, baru keluar. Data yang ada tidak real time,” jelasnya.

Kondisi itu berbeda jika AQMS dapat beroperasi secara normal. Sistem otomatis tersebut memungkinkan pemantauan kualitas udara dilakukan secara berkala sehingga perubahan kondisi udara dapat diketahui lebih cepat.

Keterlambatan data dari pemantauan manual dikhawatirkan menyulitkan pemerintah dalam menentukan langkah penanganan, khususnya ketika terjadi peningkatan asap akibat karhutla.

Terlebih, kualitas udara menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan tingkat risiko paparan asap terhadap masyarakat serta kebutuhan respons cepat apabila kondisi udara memburuk. (she/al/ris) 

Editor : Arief
Berita Banjarbaru Kabut Asap Polusi Udara