RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kemarau mulai berdampak pada lahan pertanian di Banjarmasin. Debit air sungai yang menyusut membuat sejumlah lahan mengering. Di saat yang sama, hama tungro juga menyerang tanaman padi petani.
Kabid Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Jenderawati mengatakan, kondisi lahan pertanian saat ini cukup memprihatinkan.
“Pertanaman rata-rata sudah memasuki bulan ketiga. Mulai tanam sejak Maret dan diperkirakan panen September. Masa tanam sekitar enam bulan dengan jenis padi lokal,” ujarnya, Rabu (19/8/2026) siang.
Menurutnya, kekeringan terjadi karena kapasitas air sungai mulai berkurang. Padahal, sungai menjadi salah satu sumber air bagi pertumbuhan tanaman padi di Kota Banjarmasin.
“Wilayah terdampak berada di Kecamatan Banjarmasin Timur dan sebagian Banjarmasin Selatan,” katanya.
Di Banjarmasin Timur, kekeringan terjadi di Kelurahan Sungai Lulut sedangkan di Banjarmasin Selatan di Tanjung Pagar.
“Sungai Lulut sekitar 9,5 hektare. di sekitar Kelurahan Tanjung Pagar 1 hektare. Di Sungai Lulut. Sekitar 4,5 hektare tanaman terserang hama tungro,” katanya.
Jenderawati menyebut, sejauh ini sekitar 10 petani di Sungai Lulut telah terlihat terdampak. Sementara di Tanjung Pagar terdapat sekitar 15 petani.
Untuk mengantisipasi kondisi semakin parah, DKP3 memaksimalkan penggunaan pompa air. Ada dua rumah pompa dengan pompa berukuran 6 inci yang berada di sekitar dua wilayah terdampak. Kapasitasnya disebut mampu mengairi lahan sekitar 47 hektare.
Selain itu, DKP3 juga memaksimalkan pompa portable berukuran 3 inci yang dilengkapi selang. Pompa tersebut merupakan bantuan yang diharapkan dapat dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan mereka.
Untuk tanaman yang terserang tungro, DKP3 memberikan bantuan insektisida. Meski begitu, kondisi kemarau dan serangan hama diperkirakan berdampak terhadap hasil panen tahun ini.
“Proyeksi panen padi tentunya mengalami pengurangan dibanding dengan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Ada beberapa imbauan Jenderawati kepada petani, diantaranya agar petani memilih benih yang tahan terhadap rendaman air sekaligus kekeringan. Tidak membakar lahan ketika membersihkan lahan maupun memasuki masa panen saat kondisi kemarau.
“Petani juga diharapkan memaksimalkan pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), baik dari program Pemko maupun Pemprov Kalsel,” pungkasnya.(gmp)
Editor : Arif Subekti