Kabut Asap Selimuti Banjarbaru, Karhutla Capai 945 Hektare

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:36 WIB
ASAP: Kabut asap yang cukup tebal menyelimuti kawasan Landasan Ulin Banjarbaru.
ASAP: Kabut asap yang cukup tebal menyelimuti kawasan Landasan Ulin Banjarbaru.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Kabut asap tebal masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Banjarbaru setiap pagi. Kondisi tersebut dipicu maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Selasa (18/8) pagi, kabut asap sempat mengurangi jarak pandang warga, terutama pengguna jalan. Pantauan di lapangan, asap mulai menebal sekitar pukul 07.00 WITA.

Meski demikian, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Lalu lintas udara terpantau tetap berjalan normal.

Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura Indonesia, Ahmad Zulfian Noor, mengatakan aktivitas penerbangan masih berlangsung dalam kondisi aman.

“Pagi tadi Alhamdulillah tidak terganggu, masih dalam batas normal,” ujarnya.

Di tengah penerbangan yang tetap berjalan normal, kondisi kualitas udara di Banjarbaru perlu diwaspadai. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi polutan di Banjarbaru mencapai 72,8 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.

Sementara itu, dampak karhutla di Banjarbaru terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat luas lahan terbakar hingga kini mencapai 945 hektare.

“Sampai saat ini, jumlah lahan terbakar mencapai 945 hektare sesuai data yang dihimpun oleh BPBD,” ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Ar Rasyid, kepada Radar Banjarmasin.

Harun mengatakan, upaya pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Titik api dapat muncul hampir bersamaan di lokasi yang berjauhan, sementara api cepat membesar akibat cuaca panas dan angin kencang yang berubah arah.

Selain itu, petugas juga menghadapi keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran serta semakin berkurangnya sumber air alami.

“Sesuai pantauan, sungai-sungai di lokasi semakin surut. Namun untuk sumber air hydrant alhamdulillah masih lancar,” tambahnya.

Jumlah kejadian karhutla juga berubah setiap hari, mulai dari tidak ada kejadian hingga puluhan titik. Skala dan tingkat keparahannya pun beragam.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Banjarbaru memastikan keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Seluruh petugas diminta disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dan menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bertugas.

“Untuk tim dari BPBD tidak ada yang mengalami sesak napas. Kami tidak akan memaksakan diri jika memang asap terlalu tebal dan membahayakan,” tegas Harun.

Editor : Sutrisno
karhutla Kabut Asap banjarbaru