RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Di balik lorong pasar yang sepi, nyatanya terdapat sekelompok ibu-ibu yang masih sibuk dengan tangannya. Sambil terduduk, mata mereka fokus menunduk pada butiran bawang yang masih mengikat pada akar.
Dengan gunting, satu persatu, bawang dipotong dan dipisahkan dari akar yang mengikat. Jika belum, mereka menyebutnya dengan nama dapungan.
Dari situlah, para buruh harian mencari penghasilan. Bahkan, di saat kebanyakan lapak dagangan bawang di Pasar Harum Manis, Kawasan Pasar Lima, Banjarmasin Tengah sepi karena libur berjualan, Minggu (16/8/2026).
Saat didatangi, mereka bertanya yang sedang penulis cari. Baru bertanya tentang upah, mereka langsung tahu yang sedang ramai jadi perbincangan. Yakni upah seorang pengupas bawang yang mencapai ratusan ribu.
“Oh yang Rp700 ribu per kilo itu?,” ucap seseorang, sambil diikuti riuh tawa dari kelompok mereka.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menunjukkan sosok Susanah. Seorang buruh harian yang bekerja sebagai pengupas bawang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Susanah merupakan satu dari delapan nama khusus yang diundang presiden di Sidang Kenegaraan Tahunan bersama MPR dan DPR RI.
Mereka disebut-sebut sebagai perwakilan langsung dari masyarakat yang merasakan dampak dari berbagai program bantuan sosial Pemerintah.
Presiden menyebut Susanah merupakan pengupas bawang dengan upah harian Rp700 ribu per kilogram. Mendengar kabar itu, para pengupas di Pasar Lima Banjarmasin hanya bisa merespons dengan tertawa.
Bukan hanya ragu, upah selangit seperti yang disebut presiden menurut mereka masih sangat tidak masuk akal. Anggap saja harga bawang rata-rata Rp40 ribu per kilo. Sedangkan upah mengupasnya Rp700 ribu per kilogram.
“Saya tidak dapat cara menghitung di mana keuntungan upah diperoleh. Saya rasa akan banyak yang beralih profesi jadi pengupas bawang dibanding yang menjual. Kabarkan, saya juga mau pindah ke Bogor,” kata Ida.
Bagi ibu rumah tangga berusia 44 tahun itu, kabar tersebut sangat kontras. Selama tujuh tahun bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang, dahulu, ia mengawali pekerjaan dengan menerima upah Rp150 per kilogram. Sekarang, memang sudah naik, tetapi buka ratusan ribu, melainkan Rp1.000 per kilogram.
Rp1.000 per kilogram tersebut, katanya, hanya untuk memisahkan dapungan. Alias bawang yang masih terikat dengan akar. Sedangkan, pasaran upah mengupas bawang dari kulitnya hanya Rp2.500-Rp3.000 per kilogram.
Di tempat Ida bekerja, mereka hanya mengerjakan dapungan. Tak kenal waktu, selagi stok barang tersedia untuk dikerjakan, sisanya tinggal kesanggupan pekerja untuk menyelesaikan.
“Tergantung kita mau datang jam berapa, sanggup berapa. Kalau di sini sehari puluhan kilo bisa satu orang. Ada yang Rp50 ribu berarti 50 kilogram,” ungkapnya.
Selain Ida, ada Aminah (64) yang lebih lama bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang. Ia sempat menerima upah menangani dapungan hanya Rp100 per kilo, tetapi nilai tersebut di peroleh pada 20 tahun lalu.
“Agak lucu saja mendengarnya. Kalau diupah Rp700 ribu sekilo, pasti saya sudah kaya,” singgungnya.
Dengan penghasilan puluhan ribu Rupiah perhari, pekerjaan itu rutin mereka lakukan. Upah yang diperoleh kerap masih kurang untuk memenuhi kebutuhan harian, termasuk untuk anak yang masih sekolah dan keperluan memasak di dapur.
“Bagi yang masih ada suami mungkin masih agak ringan, di sini ada yang sudah bercerai menyisakan anak banyak. Untuk harian, ya dicukup-cukupkan saja,” tambah seorang pekerja lainnya.
Editor : Arif Subekti