RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kabut asap tipis mulai terpantau di sejumlah titik Kota Banjarmasin. Terutama kawasan yang berada dekat perbatasan. BPBD Banjarmasin menegaskan asap tersebut merupakan kiriman dari kebakaran lahan di wilayah sekitar yang terbawa angin.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin mengatakan arah angin dapat membawa asap dari daerah tetangga hingga masuk ke wilayah kota.
“Ada mungkin sebagian yang dekat perbatasan. Apalagi kalau pagi dan arah angin ada saja yang terasa,” ujarnya, Rabu (12/8).
Husni memastikan belum ditemukan sumber kebakaran lahan di dalam Kota Banjarmasin yang menjadi penyebab munculnya asap. “Kalau di kita tidak ada sumber. Tapi dampak kabutnya telah ada, meski tipis,” jelasnya.
Kondisi tersebut kini dipantau, khususnya di wilayah yang berbatasan dengan daerah lain. BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi dampak terhadap kesehatan warga.
Masyarakat diminta menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar rumah ketika udara mulai terasa berasap. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko menghirup udara yang tercemar asap kebakaran lahan.
Husni menyebut sejumlah kawasan di dalam kota masih terpantau normal. “Kalau daerah Trisakti sampai Pemko tidak ada. Mungkin dekat-dekat perbatasan karena arahan angin yang membawanya ke dalam kota,” katanya.
BPBD juga menyiapkan langkah antisipasi jika kondisi asap memburuk. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Kalau makin parah, kita upaya pencegahan dulu. Untuk antisipasi rawan ISPA, mudah-mudahan semua pelayanan kesehatan bisa membackup pelayanan jika ada peningkatan terhadap pengobatan dan perawatan ISPA,” harapnya.
Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah mengatakan kondisi ISPA di Banjarmasin masih tergolong aman. “Banjarmasin masih dalam kondisi aman. Tapi risikonya tetap harus kita jaga. Ke depan, mitigasi risikonya harus dilakukan,” ujarnya, Rabu (12/8).
Berdasarkan pemantauan Dinkes, kasus ISPA pada Juli justru menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni tercatat sekitar 400 kasus, sedangkan Juli berada di kisaran 300 kasus.
Untuk Agustus, pemantauan masih berjalan dan dilakukan secara mingguan. Sejauh ini, belum terlihat peningkatan kasus yang mengkhawatirkan.
Meski demikian, Dinkes telah meminta seluruh puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan. Surat edaran telah diterbitkan sejak sebulan lalu, termasuk memastikan kesiapan sarana pelayanan, obat-obatan, dan bahan medis habis pakai. “Kalau terjadi peningkatan kasus ISPA di masyarakat, pusat pelayanan kesehatan kita dapat menangani masyarakat dengan baik,” jelas Yanuar.
Upaya pencegahan juga digencarkan melalui media sosial, podcast, dan puskesmas. Edukasi mencakup gejala ISPA, bahaya paparan asap, serta langkah perlindungan saat kualitas udara memburuk.
Masyarakat, khususnya mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, diminta menggunakan masker. Pekerja lapangan dan pengemudi ojek menjadi kelompok yang perlu lebih waspada. “Kalau kita bekerja di luar ruangan, antisipasinya dengan menggunakan masker,” imbaunya.
Anak-anak juga diminta mendapat perhatian khusus. Orang tua dianjurkan membatasi aktivitas anak di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
Dinkes mengingatkan masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti imbauan kesehatan sembari perkembangan kondisi udara dan kasus ISPA terus dipantau.(van/gmp/az/dye)
Editor : Arief