RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Pembatasan distribusi air bersih mulai dirasakan warga Kota Banjarmasin. Di kawasan Sungai Andai, Banjarmasin Utara, aliran air bahkan sempat mati dari sore hingga pagi.
Warga setempat, Falla (23) mengaku tidak mendapat informasi sebelum aliran air di rumahnya berhenti. Air baru kembali mengalir sekitar pukul 02.00 Wita, itu pun dengan tekanan sangat kecil dan hanya bertahan sekitar satu jam. “Tidak ada info apa-apa, tiba-tiba mati dari sore semalam sampai pagi,” ujarnya, Kamis (13/8).
Kondisi itu membuat Falla memanfaatkan waktu singkat saat air mengalir untuk mengisi bak penampungan. Untuk kebutuhan mandi, ia memilih menggunakan fasilitas di tempat kerja yang aliran airnya masih normal.
Gangguan serupa, menurut Falla, sudah berlangsung sekitar dua hari. Ia baru mengetahui adanya pembatasan setelah membaca imbauan penghematan air, dan menanyakan kondisi tersebut kepada pihak pengembang perumahan.
“Sudah mati baru disuruh menghemat pas aku baca pengumumannya,” katanya.
Ia berharap PTAM Bandarmasih memberikan informasi lebih awal, terutama mengenai wilayah terdampak dan perkiraan waktu distribusi kembali normal. Bagi warga di kawasan ujung kota, kepastian informasi dinilai penting agar bisa menyiapkan cadangan air.
Kadar Garam Tinggi
Direktur PTAM Bandarmasih, Zulbadi membenarkan distribusi air bersih mengalami penurunan akibat kondisi kemarau. Namun, ia menegaskan tidak ada jadwal pemadaman khusus. “Memang tidak ada jadwal, tetapi kami pastikan semua wilayah teraliri. Namun, ada yang maksimal dan belum maksimal, tergantung persediaan air kita,” jelasnya.
Menurut Zulbadi, persoalan utama terjadi karena meningkatnya kadar garam pada sumber air baku. Kondisi tersebut membuat sebagian air tidak dapat diolah.
Intake Sungai Bilu bahkan berhenti beroperasi karena air baku tidak memenuhi syarat pengolahan. Penurunan distribusi juga terjadi di sejumlah wilayah, yakni sekitar 40 persen di Banjarmasin Barat, 39 persen di Booster S Parman, serta masing-masing 8 persen di Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur.
Zulbadi mengimbau pelanggan yang masih mendapat aliran untuk memanfaatkan bak penampungan dan menghemat penggunaan air. “Kalau punya penampungan air, manfaatkan untuk menampung. Pada saat air minim mengalir, gunakan sehemat mungkin,” imbaunya.
PTAM Bandarmasih juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III untuk menangani kondisi di Intake Sungai Bilu. Salah satu upaya yang didorong adalah pengerukan sedimentasi di sekitar intake.
Kondisi pasang surut turut memperumit pengambilan air baku. Saat surut, kadar garam terlalu tinggi, sedangkan ketika pasang, intrusi air laut kembali meningkatkan kadar garam. “Kalau air baku cukup, pasti normal kembali,” sebut Zulbadi.(van/az/dye)
Editor : Arief