RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Potensi kabut asap akibat kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan menjadi perhatian. Namun, Pemerintah Kota Banjarmasin belum bisa memantau kualitas udara secara optimal karena alat Air Quality Monitoring System (AQMS) masih mengalami gangguan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Jefrie Fransyah mengatakan untuk sementara pihaknya mengacu pada hasil pemantauan kualitas udara dari wilayah tetangga, Banjarbaru. “Alat kita sedang rusak, jadi mengacu ke tetangga saja, ke Banjarbaru,” ujarnya, Kamis (13/8).
DLH, lanjutnya, tengah mengupayakan perbaikan agar pemantauan kualitas udara di Banjarmasin dapat kembali dilakukan secara mandiri. AQMS Banjarmasin terpasang di halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, Jalan Kayu Tangi II, Kelurahan Pangeran, Banjarmasin Utara.
Perangkat tersebut berfungsi mengukur sejumlah parameter pencemar udara, termasuk partikulat halus PM2.5 dan PM10 serta berbagai gas pencemar. Keberadaan alat ini menjadi penting di tengah potensi asap kiriman dari kebakaran lahan di wilayah sekitar Banjarmasin. Peningkatan konsentrasi partikulat dapat menjadi indikator memburuknya kualitas udara.
Namun, hasil pembacaan AQMS Banjarmasin saat ini belum dapat dijadikan acuan resmi. Perangkat masih membutuhkan perbaikan dan kalibrasi setelah sebelumnya dilakukan penggantian sejumlah komponen. DLH telah melaporkan kondisi tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), selaku pihak yang memasang dan menangani sistem AQMS.
Sembari menunggu perbaikan, DLH Banjarmasin masih mengandalkan data kualitas udara dari Banjarbaru untuk memantau kondisi udara di wilayah Banjarmasin.(van/az/dye)
Editor : Arief