Gas Metana Mengintai, DLH Siagakan Damkar

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:19 WIB
DLH Kota Banjarmasin menyiagakan armada damkar untuk mengantisipasi munculnya kembali api.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)

Judul:
DLH Kota Banjarmasin menyiagakan armada damkar untuk mengantisipasi munculnya kembali api.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin) Judul:

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kebakaran TPA Basirih membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin meningkatkan kewaspadaan. Kondisi cuaca yang kering dinilai masih berpotensi memicu kebakaran kembali.

Kepala DLH Kota Banjarmasin Jefry Fransyah mengatakan, kandungan gas metana memang terdapat di kawasan TPA. Gas tersebut terbentuk dari proses penguraian sampah di dalam timbunan.

"Memang yang namanya di TPA itu ada gas metan yang ada di situ," ujarnya ketika dikonfirmasi Radar Banjarmasin, Kamis (13/8/2026) siang.

Untuk mengantisipasi kebakaran susulan, DLH mulai meningkatkan penjagaan di kawasan TPA Basirih. Armada pemadam kebakaran disiagakan bersama petugas di lokasi.

"Di musim kering ini ada potensi kebakaran lagi. Mobil Damkar di situ dengan petugasnya, kerja sama dan koordinasi dengan Dinas Damkar Banjarmasin," katanya.

Menurut Jefry, penjagaan dilakukan setiap hari selama kondisi masih rawan. Tujuannya agar apabila muncul kembali asap atau api, penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Namun, langkah tersebut hanya menjadi penanganan jangka pendek. Untuk jangka panjang, DLH menyiapkan strategi mengurangi timbunan sampah lama melalui konsep mining landfill. Sampah yang sudah bertahun-tahun menumpuk akan digali dan diolah kembali.

Salah satu produk yang ditargetkan dari pengolahan tersebut adalah RDF (Refuse Derived Fuel). Produk ini merupakan bahan bakar olahan yang berasal dari sampah yang telah dipilah, dicacah dan diproses sesuai standar.

"Sampah-sampah lama itu akan digali, kemudian diolah lagi menjadi RDF," jelasnya.

Menurut Jefry, RDF dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri. Salah satunya industri semen. Bahkan, produk tersebut berpotensi dijual kepada perusahaan yang membutuhkan.

"Ketika RDF itu sudah jadi, itu bisa dijual lagi ke industri semen atau perusahaan lain," bebernya.

Di sisi lain, Banjarmasin juga masuk dalam rencana kerja sama pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Program tersebut melibatkan Danantara dan sejumlah pemerintah daerah serta diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup.

Untuk Banjarmasin, pemerintah daerah akan menyiapkan lahan dan bahan baku berupa sampah. Sementara dukungan anggaran pembangunan berasal dari pihak yang bekerja sama dengan pemerintah pusat.

"MoU-nya sudah dilaksanakan. Tetapi masih ada tahapan-tahapan untuk menuju ke sana, seperti masalah perizinan dan lahan," ungkapnya.

Fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk bisa terbangun.

"Kita sambil perbaiki hulunya. Sampah dari rumah harus mulai dipilah. Dengan begitu bahan bakunya meningkat," ujarnya.

Editor : Arif Subekti
kewaspadaan kebakaran TPA Basirih kondisi cuasa Dinas Lingkungan Hidup kota banjarmasin