Cegah Api Kembali Menyala, BPBD Banjarmasin Perketat Pemantauan TPA Basirih

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:27 WIB
PEMADAMAN: Petugas melakukan pemadaman api kawasan TPA Basirih, Banjarmasin belum lama tadi. (Foto: Husni Thamrin untuk Radar Banjarmasin)
PEMADAMAN: Petugas melakukan pemadaman api kawasan TPA Basirih, Banjarmasin belum lama tadi. (Foto: Husni Thamrin untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Api yang membakar kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih memang telah padam. Namun, kewaspadaan belum boleh diturunkan.

BPBD Kota Banjarmasin masih mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali api dari timbunan sampah. Salah satu yang dicurigai menjadi pemicu adalah gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah.

Kepala BPBD Kota Banjarmasin Husni Thamrin mengatakan, sejauh ini belum dapat dipastikan apakah gas metana menjadi penyebab kebakaran. Sebab, masih diperlukan pemeriksaan teknis dari instansi yang memiliki kewenangan di kawasan TPA.

"Belum bisa dipastikan. Untuk hal tersebut, kawan-kawan dari DLH yang lebih mengetahui," ujarnya, Rabu (12/8/2026) pagi.

Baca Juga: Kejari Balangan Eksekusi Denda Ratusan Juta Kasus Korupsi Dana Hibah Majelis Taklim 

Meski demikian, dugaan tersebut muncul lantaran saat petugas tiba di lokasi tidak ditemukan adanya aktivitas masyarakat yang sedang membakar sampah. Api terlihat dari tumpukan sampah. Sejumlah bagian juga masih mengeluarkan asap.

"Ketika kami datang ke sana, api sudah ada di tumpukan sampah. Ada beberapa bagian yang terbakar dan mengeluarkan asap. Setelah diinvestigasi, tidak ditemukan masyarakat yang membakar sampah," jelas Thamrin.

Menurutnya, apabila tidak ada aktivitas pembakaran, salah satu kemungkinan api dipicu gas yang dihasilkan dari proses penguraian sampah. Apalagi saat ini kondisi cuaca cukup panas dan kering. Kondisi tersebut membuat risiko kebakaran meningkat.

"Kalau tidak ada yang membakar sampah, kemungkinan ada gas metana. Di tempat tumpukan sampah ada gas hasil penguraian yang bisa menjadi pemicu api," katanya.

Baca Juga: Rumah Warga Lawahan Tapin Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp300 Juta

Karena itu, BPBD tidak ingin mengambil risiko. Pemantauan kawasan TPA Basirih terus dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan UPT pengelola TPA. Thamrin menyebut pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi asap maupun titik api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

"Kalau nanti ada titik lagi yang mengeluarkan asap, segera kita padamkan. Dilakukan pendinginan di titik tersebut," tegasnya.

Menurut Thamrin, UPT pengelola TPA bersama DLH juga melakukan pemantauan secara rutin. Bahkan, pascakebakaran, pemantauan dilakukan selama 24 jam. Langkah ini penting karena BPBD tidak bisa melakukan pembasahan terhadap seluruh timbunan sampah. Karena dikhawatirkan mengganggu proses penguraian sampah. 

"Kita tidak mungkin melakukan pembasahan secara menyeluruh. Pembasahan dilakukan pada titik-titik yang nanti ada apinya," ujarnya.

Baca Juga: Kemenag Balangan Ingatkan Pendirian Madrasah Wajib Penuhi Persyaratan dan Prosedur

Ia menjelaskan, kondisi sampah yang terlalu basah juga dapat memperlambat proses penguraian. Namun, kondisi yang terlalu kering dan panas juga menyimpan risiko tersendiri.

"Sampah dalam keadaan kering memang cepat mengurai. Tetapi risikonya kalau terlalu panas dan terlalu kering. Apalagi ada gas yang bisa menjadi pemicu, kemungkinan terjadi percikan api," jelasnya.

Selain ancaman kebakaran TPA, BPBD juga mencatat puluhan kejadian kebakaran lahan di Banjarmasin selama musim kemarau.

Ia menyebut sejak 15 Juli hingga 11 Agustus 2026, tercatat 25 kejadian kebakaran lahan atau semak belukar. Total luas lahan yang terbakar sekitar 2,5 hektare.

Baca Juga: Dua Rumah di HSU Ambruk akibat Pergeseran Tanah Bantaran Sungai

Salah satu kejadian tersebut merupakan kebakaran di kawasan TPA Basirih.

Ia menegaskan, data tersebut merupakan hasil pendataan BPBD berdasarkan kejadian kebakaran lahan yang ditangani di wilayah Kota Banjarmasin.

Karena itu, dia meminta masyarakat tidak membakar sampah sembarangan. Sebab, api dari aktivitas tersebut sangat mudah menjalar ke semak belukar yang kondisinya kering.

"Kami juga meminta bantuan media untuk mengingatkan masyarakat agar jangan membakar sampah. Itu berisiko menjalar ke semak belukar di sekitarnya," pungkas Thamrin.

Editor : Sutrisno
Banjar Kebakaran TPA Basirih