Kasus ISPA Banjarbaru Tembus 21 Ribu di Tengah Meluasnya Karhutla

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:25 WIB

 

KABUT ASAP: Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Banjarbaru. (Sheilla/Radar Banjarmasin)
KABUT ASAP: Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Banjarbaru. (Sheilla/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Banjarbaru mencapai 21.323 kasus secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026. Kenaikan kasus terjadi di tengah paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat tren kenaikan kasus ISPA mulai terlihat tajam sejak pertengahan Juli 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, sepanjang Januari hingga 8 Agustus 2026 tercatat 223 kejadian karhutla. Total luas lahan yang terbakar mencapai 568,86 hektare.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru dr. Siti Ningsih mengatakan, kenaikan kasus ISPA terlihat pada Minggu Epidemiologi ke-29 tahun 2026.

"Ada kenaikan pada Minggu ke-29 dengan 879 kasus. Memasuki Minggu ke-30, jumlah penderita kembali melonjak menjadi 1.099 kasus," terang Siti Ningsih saat dikonfirmasi.

Asap Karhutla Tingkatkan Risiko

Siti menjelaskan, secara epidemiologi terdapat keterkaitan antara tingginya paparan asap karhutla dan risiko gangguan pernapasan.

Asap sisa pembakaran lahan membawa partikel halus, karbon monoksida, serta berbagai zat iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru.

"Kondisi ini memicu batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas. Bagi warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru kronis, risikonya bisa jauh lebih berat," tambahnya.

Meski demikian, Dinkes tidak menggeneralisasi seluruh kasus ISPA sebagai dampak karhutla. Faktor lain seperti infeksi virus, bakteri, perubahan cuaca ekstrem, sirkulasi udara dalam ruangan yang buruk, hingga paparan asap rokok juga dapat memicu ISPA.

Dalam kondisi kabut asap, kelompok rentan dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan. Mereka meliputi balita, anak usia sekolah, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Warga Diminta Kurangi Aktivitas

Menyikapi kondisi kualitas udara tersebut, Dinkes Banjarbaru mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah.

"Jika memang mendesak harus beraktivitas di luar ruangan, warga sangat disarankan mengenakan masker standar perlindungan tinggi seperti jenis KN95 atau N95," imbau Siti.

Saat kabut asap masuk ke kawasan permukiman, warga juga diminta menutup pintu dan jendela rumah.

Masyarakat diingatkan menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup dan memperbanyak minum air putih. Warga juga diminta tidak membakar sampah maupun lahan.

Pemerintah mengimbau warga segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang memburuk.

"Apabila mengalami batuk berlanjut, sesak napas, demam, atau nyeri dada, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat," pungkasnya. (*)

 

Editor : M. Ramli Arisno
karhutla Banjarbaru kabut asap Banjarbaru kasus ISPA Banjarbaru penderita ISPA Banjarbaru Dinkes Banjarbaru