Sengketa Lahan Berujung Trauma, Pemko Banjarbaru Berikan Pendampingan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:56 WIB
PENDAMPINGAN: UPTD PPA Banjarbaru bersama pihak Kelurahan Syamsudin Noor saat pendampingan anak Nana yang trauma akibat konflik kepemilikan lahan.
(PPA Banjarbaru untuk Radar Banjarmasin) 
PENDAMPINGAN: UPTD PPA Banjarbaru bersama pihak Kelurahan Syamsudin Noor saat pendampingan anak Nana yang trauma akibat konflik kepemilikan lahan. (PPA Banjarbaru untuk Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru memberikan pendampingan kepada keluarga Nana, warga Jalan Tambak Langsat, Kelurahan Syamsudin Noor, menyusul sengketa lahan yang diduga berdampak pada kondisi psikologis dua anak di bawah umur.

Melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) bersama pihak Kelurahan Syamsudin Noor, pemerintah mendatangi kediaman keluarga tersebut pada Kamis (6/8) untuk melakukan asesmen awal dan memastikan perlindungan bagi anak-anak.

Lurah Syamsudin Noor, Fitria Khairani, mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APMP2KB), UPTD PPA, serta tim kuasa hukum keluarga Nana guna menindaklanjuti laporan yang diterima.

"Kami menindaklanjuti laporan bersama tim UPTD PPA, Kasi Pemerintahan, dan tim pengacara Ibu Nana," ujar Fitria saat dihubungi, Jumat (7/8).

Menurutnya, persoalan yang semula berkaitan dengan sengketa kepemilikan tanah berkembang setelah muncul dugaan kekerasan terhadap anak pada Rabu (5/8). Dugaan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah setempat.

"Ini menjadi atensi yang sangat serius dari kelurahan. Kami sangat prihatin jika ada tindakan kekerasan terhadap anak, apalagi korbannya masih di bawah umur," katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD PPA Kota Banjarbaru, Afifah Chairina Firdaus, mengatakan fokus utama pendampingan saat ini adalah pemulihan kondisi psikologis kedua anak. Berdasarkan hasil asesmen awal, keduanya menunjukkan gejala trauma yang cukup berat.

"Hasil wawancara awal menunjukkan kedua anak mengalami kesulitan tidur dan memiliki respons refleks, seperti langsung membuka jendela ketika mendengar suara dari luar rumah," jelas Afifah.

Ia mengatakan, UPTD PPA telah memberikan edukasi kepada keluarga serta konseling awal sebagai langkah penanganan. Selanjutnya, kedua anak akan mendapat pendampingan psikologis secara intensif bersama psikolog profesional.

"Kami akan terus melakukan pendampingan psikologis lanjutan dan trauma healing agar kondisi psikis anak dapat kembali pulih," pungkasnya. (she/al/ris) 

Editor : Arief
Berita Banjarbaru UPTD PPA Kota Banjarbaru Sengketa Lahan Perempuan