Misbach Tamrin: Wali Kota Tak Perlu Minta Maaf, Monumen Memang Sudah Waktunya Ditata

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 03:37 WIB

BERCERITA: Seniman sekaligus perancang Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai, Misbach Tamrin, menceritakan sejarah pembangunan monumen hingga pertemuannya dengan Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR yang menyampaikan permohonan maaf usai pembongkaran. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
BERCERITA: Seniman sekaligus perancang Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai, Misbach Tamrin, menceritakan sejarah pembangunan monumen hingga pertemuannya dengan Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR yang menyampaikan permohonan maaf usai pembongkaran. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Polemik pembongkaran Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai oleh Pemerintah Kota Banjarmasin dipastikan berakhir damai. Seniman sekaligus perancang monumen tersebut, Misbach Tamrin, mengaku sama sekali tidak menyimpan keberatan terhadap langkah pemerintah.

 

Bahkan, pria berusia 85 tahun itu mengungkapkan dirinya merasa sungkan ketika Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR datang langsung ke rumahnya untuk menyampaikan permohonan maaf atas pembongkaran monumen yang dilakukan tanpa terlebih dahulu berkomunikasi dengannya sebagai pencipta karya.

Pertemuan berlangsung pada Senin (3/8/2026) petang. Bagi Misbach, permintaan maaf itu justru tidak perlu dilakukan karena pemerintah memiliki kewenangan penuh menata aset dan ruang publik demi kepentingan masyarakat.

"Beliau merasa bersalah, membongkar tanpa memberitahu kami para seniman, termasuk saya pribadi yang menciptakan. Jelas saya memaafkan, bahkan memaklumi Pemko," ujar Misbach saat ditemui di kediamannya, Rabu (5/8/2026) malam.

Menurutnya, niat pemerintah bukan menghilangkan nilai sejarah monumen, melainkan menata kembali wajah kota agar lebih baik.

Karena itu, ia menegaskan tidak pernah memiliki persoalan pribadi dengan Wali Kota Muhammad Yamin HR.

"Otomatis saya memaafkan dan menegaskan tidak ada persoalan saya pribadi terhadap wali kota untuk monumen itu. Bahkan secara tata letak dan kondisi lingkungan, saya akui apa yang disampaikan beliau benar," katanya.

Misbach bahkan mengaku merasa kurang pantas menerima permohonan maaf tersebut.

Baginya, Monumen Kayuh Baimbai bukan sekadar karya pribadi, melainkan hasil kerja kolektif yang dibangun puluhan tahun lalu bersama banyak pihak.

"Bagi saya, itu merupakan suatu kehormatan. Saya merasa kurang pantas menerima permintaan maaf itu. Karya tersebut merupakan hasil kerja kolektif yang dibuat sekitar 40 tahun lalu dan boleh dikatakan saya pun sudah lupa," tuturnya.

Monumen Dinilai Sudah Tak Ideal

Misbach mengakui kondisi Monumen Kayuh Baimbai memang sudah jauh berubah dibanding saat pertama kali dibangun.

Selain mengalami kemiringan akibat usia yang mencapai puluhan tahun, keberadaan bangunan-bangunan komersial di sekitarnya membuat monumen kehilangan ruang pandang dan nilai estetikanya.

Karena itu, menurutnya, penataan ulang bahkan pembangunan kembali merupakan langkah yang wajar apabila dilakukan secara matang.

"Kalau melihat kondisi sekarang, memang sudah tidak ideal lagi. Lingkungannya berubah, monumennya juga sudah miring. Wajar jika diperbaiki, bahkan dibangun kembali," ujarnya.

Ia mengungkapkan, gagasan menata ulang monumen sebenarnya bukan hal baru.

Wacana tersebut pernah disampaikan ketika Kota Banjarmasin masih dipimpin Wali Kota Ibnu Sina. Saat itu keduanya sempat berdiskusi ketika bertemu dalam sebuah pameran seni di kawasan Eks Gubernuran atau Siring Nol Kilometer.

Namun, menurut Misbach, rencana tersebut tidak mudah direalisasikan karena monumen itu memiliki nilai sejarah panjang sekaligus mengandung filosofi "Kayuh Baimbai" yang kini menjadi motto resmi Kota Banjarmasin.

"Mungkin karena menghargai sejarah dan pembuatan karya saya didukung oleh almarhum Wali Kota Effendi Ritonga di masa lalu," katanya.

Dibangun di Tengah Bayang-Bayang Orde Baru

Di balik bentuknya yang sederhana, Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai ternyata menyimpan sejarah panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Misbach mengisahkan, proyek pembangunan monumen itu berlangsung pada masa Orde Baru, ketika dirinya baru beberapa tahun menghirup udara bebas setelah menjalani masa penahanan sebagai tahanan politik.

Ia ditangkap pada 1965 karena aktif berkesenian di Sanggar Bumi Tarung Yogyakarta yang berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang saat itu dianggap memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tanpa pernah menjalani proses pengadilan, Misbach menghabiskan 13 tahun dalam tahanan militer sebelum akhirnya dibebaskan pada 1978.

Meski memiliki latar belakang sebagai mantan tahanan politik, kemampuannya di bidang seni rupa justru membawanya mendapat kepercayaan untuk merancang salah satu ikon Kota Banjarmasin.

Ditunjuk Mantan Komandan Kamp Tahanan

Kepercayaan itu datang dari Kapten Sugito, bawahan Wali Kota Banjarmasin saat itu, Letkol Effendi Ritonga.

Sugito yang juga menjabat Kepala Pasar Antasari merupakan sosok yang pernah menjadi komandan kamp tahanan tempat Misbach menjalani masa penahanan di Liang Anggang.

Ironisnya, dari hubungan sebagai mantan tahanan dan komandan kamp itulah lahir sebuah kerja sama membangun monumen yang kemudian menjadi simbol Kota Banjarmasin.

"Kapten Sugito adalah mantan komandan kamp tahanan kami di Liang Anggang. Beliau kemudian memberi tugas kepada saya sebagai tenaga ahli lulusan ASRI Yogyakarta," kenangnya.

Dalam proyek tersebut, Misbach bertanggung jawab menyusun konsep artistik dan estetika monumen.

Sementara aspek konstruksi dikerjakan bersama arsitek Anwar Fauzi.

Adapun tema "Kayuh Baimbai" merupakan gagasan langsung Wali Kota Banjarmasin saat itu, Letkol Effendi Ritonga, sebagai penanggung jawab proyek.

Diupah Layaknya Buruh Harian

Meski menjadi perancang utama, Misbach mengaku tidak pernah menandatangani kontrak kerja resmi.

Ia bersama sekitar tujuh mantan tahanan politik lainnya dan sekitar sepuluh pekerja umum hanya menerima upah harian sebagaimana buruh bangunan.

Selama kurang lebih satu setengah bulan mereka bekerja siang dan malam demi menyelesaikan pembangunan monumen sesuai target pemerintah.

"Kami bekerja siang malam selama sekitar satu setengah bulan untuk menyelesaikannya," ucap Misbach.

Di tengah proses pembangunan, proyek tersebut sempat memicu polemik.

Sejumlah seniman Banjarmasin yang dipelopori Adjim Ariadi mempertanyakan keputusan pemerintah yang mempercayakan pembangunan monumen kepada mantan tahanan politik tanpa melibatkan komunitas seniman lokal.

Menurut Misbach, kritik tersebut lebih banyak ditujukan kepada Wali Kota Effendi Ritonga.

Untuk meredam polemik, pemerintah kemudian menunjuk almarhum Budi Santoso sebagai supervisor sekaligus pendamping pelaksanaan proyek.

Meski sempat menuai penolakan, pembangunan Monumen Kayuh Baimbai akhirnya rampung sesuai target dan kemudian menjadi salah satu ikon Kota Banjarmasin.

Namun bagi Misbach, perdebatan yang terjadi saat itu menyisakan pelajaran penting mengenai pentingnya komunikasi dan keterlibatan berbagai pihak dalam sebuah karya publik.

"Bagi saya, peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah panjang lahirnya Monumen Kayuh Baimbai. Ada pelajaran yang harus diingat agar kejadian serupa tidak terulang kembali," ungkapnya.

Pemko Siapkan Monumen Baru

Berakhirnya polemik pembongkaran Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai tidak hanya ditandai dengan permohonan maaf dari Pemerintah Kota Banjarmasin. Pertemuan tersebut juga menghasilkan pembicaraan mengenai rencana pembangunan monumen baru yang tetap mempertahankan nilai sejarah dan filosofi "Kayuh Baimbai".

Menariknya, Misbach Tamrin kembali diminta terlibat dalam proses perancangannya.

Menurut Misbach, Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR menyampaikan komitmen agar monumen pengganti tidak sekadar menjadi elemen estetika kota, tetapi juga mampu merekam sejarah lahirnya ikon tersebut.

Karena itu, monumen baru nantinya direncanakan dilengkapi prasasti yang memuat sejarah pembangunan serta makna filosofis Kayuh Baimbai.

Selama ini, menurut Misbach, monumen lama tidak memiliki penjelasan sejarah sehingga banyak masyarakat hanya mengenalnya sebagai ikon kota tanpa memahami proses panjang di balik pembangunannya.

"Pak wali kota menyampaikan monumen baru nanti akan dilengkapi prasasti, sehingga masyarakat mengetahui sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya," terangnya.

Dipindahkan ke Ruang Publik

Tak hanya mengubah desain, Pemerintah Kota Banjarmasin juga mempertimbangkan lokasi baru yang dinilai lebih representatif.

Jika sebelumnya Monumen Kayuh Baimbai berdiri di kawasan simpang lalu lintas yang padat kendaraan, ke depan monumen tersebut direncanakan ditempatkan di ruang publik yang lebih nyaman sehingga masyarakat dapat menikmati karya tersebut secara utuh.

Bagi Misbach, gagasan tersebut justru sejalan dengan harapannya sejak lama.

Ia menilai sebuah monumen bukan sekadar penanda ruang, tetapi juga media edukasi, refleksi sejarah, dan ruang apresiasi seni bagi masyarakat.

"Beliau ingin monumen baru ditempatkan di lokasi yang lebih selaras, teduh, dan nyaman untuk dinikmati publik, bukan di tengah keramaian lalu lintas seperti sebelumnya," kata pria berusia 85 tahun itu.

Dirancang Lewat Musyawarah

Misbach juga mengapresiasi rencana pemerintah yang akan menyusun konsep monumen baru melalui proses yang lebih terbuka.

Menurutnya, pembangunan monumen publik sebaiknya tidak hanya menjadi keputusan pemerintah, melainkan melibatkan para pemangku kepentingan agar menghasilkan karya yang memiliki legitimasi sekaligus kualitas artistik yang lebih baik.

Ia mengusulkan agar Dewan Kesenian Banjarmasin, seniman rupa, arsitek, akademisi, hingga pemerintah daerah duduk bersama dalam satu forum untuk merumuskan konsep terbaik.

Dengan demikian, monumen baru tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki kekuatan sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang disepakati bersama.

"Saya mengusulkan nanti dibahas bersama Dewan Kesenian Banjarmasin, para arsitek, dan dipimpin teman-teman yang memahami persoalan ini. Dengan begitu hasilnya bisa lebih sempurna," paparnya.

Masih Siap Mengabdi di Usia 85 Tahun

Usia yang telah menginjak 85 tahun tidak menyurutkan semangat Misbach Tamrin untuk kembali berkontribusi bagi Kota Banjarmasin.

Meski mengakui kemampuan fisiknya tidak lagi sekuat dulu, ia masih ingin menyumbangkan pengalaman, pemikiran, dan gagasan yang selama puluhan tahun ditempa dalam dunia seni rupa.

Apabila dipercaya terlibat dalam pembangunan monumen baru, Misbach lebih memilih mengambil peran sebagai pengarah atau pengawas artistik, sementara pekerjaan teknis diserahkan kepada generasi yang lebih muda.

"Saya mungkin sudah tidak bisa bekerja secara fisik, tetapi secara pemikiran saya masih siap membantu. Paling memungkinkan menjadi pengawas atau memberi masukan, dibantu para perajin dan tenaga ahli yang lebih muda," ujarnya.

Bagi Misbach, keterlibatan itu bukan semata-mata soal karya, melainkan tanggung jawab moral menjaga agar filosofi Kayuh Baimbai tetap hidup dan dipahami lintas generasi.

Ia berharap monumen baru kelak mampu menghadirkan wajah yang lebih megah, lebih representatif, sekaligus tetap mempertahankan ruh karya yang lahir sekitar empat dekade silam.

"Selama kesehatan masih memungkinkan, saya tetap semangat. Harapannya monumen baru nanti tetap mempertahankan ruh karya lama, tetapi tampil lebih indah, lebih megah, dan menjadi kebanggaan masyarakat Banjarmasin," pungkasnya. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
Monumen Kayuh Baimbai Sejarah Monumen Banjarmasin Penataan Monumen Kayuh Baimbai wali kota banjarmasin Misbach Tamrin