RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Pemerintah Kota Banjarmasin menargetkan kapasitas tampung sungai bertambah hingga 990 ribu meter kubik melalui program normalisasi sungai dan pembukaan kembali alur-alur sungai yang selama ini mati atau tertutup pembangunan. Program tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang pengendalian banjir di Kota Seribu Sungai yang selama ini kerap dilanda banjir akibat hujan deras, banjir rob, hingga kiriman air dari daerah hulu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Chandra Iriandhy Wijaya mengatakan kondisi geografis Banjarmasin yang berada sekitar 18 sentimeter di bawah permukaan laut membuat penanganan banjir harus dilakukan dengan berbagai pendekatan. "Penanganannya harus melihat penyebabnya, apakah banjir rob, kiriman air dari hulu, atau curah hujan tinggi yang berlangsung beberapa hari," ujarnya, Rabu (29/7).
Menurut Chandra, saat curah hujan tinggi, banjir terjadi karena volume air melampaui kapasitas sungai dan drainase. Karena itu, Pemko memprioritaskan pengerukan sungai, sekaligus menghidupkan kembali jaringan sungai yang telah hilang. Program tersebut merupakan arahan langsung Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai jalur utama pengendali banjir.
Berdasarkan pendataan PUPR, Banjarmasin memiliki sekitar 512 alur sungai. Namun, sekitar 30 anak sungai kini tidak lagi berfungsi karena tertutup permukiman maupun pembangunan lainnya. "Itulah yang ingin kami hidupkan kembali agar aliran air menjadi lebih lancar," kata Chandra.
Selain membuka kembali sungai mati, Pemko menargetkan normalisasi sekitar 55 kilometer alur sungai dengan pengerukan rata-rata sedalam tiga meter dan lebar enam meter.
Dengan bertambahnya kedalaman dan panjang alur sungai, kapasitas tampung air diperkirakan meningkat hingga 990 ribu meter kubik, sehingga mampu mengurangi luapan air ke jalan dan kawasan permukiman.
Untuk mempercepat pekerjaan, Dinas PUPR juga akan menambah armada alat berat. Termasuk ekskavator amfibi yang digunakan membuka alur sungai yang telah tertutup. "Nanti volume air yang belum tertampung akan kami distribusikan ke jaringan sungai yang sudah dibuka, sehingga luapan air ke permukiman bisa terus berkurang," jelasnya.
Sepanjang 2026, PUPR telah melakukan normalisasi di 49 titik sungai. Terdiri atas 14 titik pada Januari, tujuh Februari, enam Maret, tujuh April, enam Mei, dan sembilan Juni.
Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin, Khairina Rahmi mengatakan program normalisasi telah berjalan secara swakelola sejak Januari 2026, dan progresnya kini mendekati 50 persen.
Pengerjaan diawali di wilayah Banjarmasin Selatan dan Timur. Kemudian berlanjut ke Banjarmasin Barat serta kawasan prioritas lainnya sesuai masterplan pengendalian banjir.
Dalam waktu dekat, PUPR juga akan memanfaatkan ekskavator amfibi pinjaman dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III untuk membuka kembali sekitar 10 hingga 20 titik alur sungai yang selama ini tertutup. Di antaranya di kawasan Pangeran, Sungai Lulut, dan sejumlah kompleks perumahan.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperbesar kapasitas tampung air, sekaligus memperlancar konektivitas antarsungai, sehingga risiko banjir di Kota Banjarmasin dapat terus ditekan.(van/az/dye)
Editor : Arief