RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Pemerintah Kota Banjarmasin menargetkan kapasitas daya tampung sungai dapat bertambah sebesar 990 ribu meter kubik, menyusul mitigasi dampak banjir langganan yang kerap mengepung Kota Seribu Sungai.
Langkah tersebut direalisasikan melalui program normalisasi sungai yang saat ini masih berlangsung.
Upaya itu juga dibarengi dengan peningkatan konektivitas sungai, di antaranya dengan menjebol berbagai hambatan untuk mengembalikan alur sungai yang dianggap mati, atau dahulu ada namun telah hilang, sekaligus membuka sumbatan yang menyebabkan sungai-sungai kecil tidak lagi mengalir secara optimal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Chandra Iriandhy Wijaya mengatakan kondisi tersebut diperlukan untuk pengendalian banjir, mengingat Banjarmasin secara geografis berada 18 centimeter di bawah permukaan laut.
Menurutnya, penanganan banjir di Banjarmasin harus disesuaikan dengan sumber penyebabnya.
Selain dipengaruhi kondisi geografis yang berada di bawah permukaan laut, Banjarmasin juga kerap menghadapi banjir rob dari daerah aliran sungai (DAS) Barito serta kiriman air dari Sungai Martapura yang masuk ke jaringan sungai-sungai kecil.
"Yang jelas, masih ada kemungkinan permukaan air sungai lebih tinggi dibanding daratan. Karena itu penanganannya harus melihat penyebabnya, apakah rob, kiriman atau hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung berhari-hari," jelasnya, Rabu (29/7/2026).
Sementara itu, banjir akibat curah hujan tinggi terjadi ketika volume air melebihi kapasitas tampung sungai dan drainase.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemko Banjarmasin memprioritaskan normalisasi sungai dan drainase, sekaligus menghidupkan kembali sungai-sungai yang selama ini mati atau terputus.
Program ini merupakan arahan langsung Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengendalian banjir.
Salah satu langkah yang kini diprioritaskan adalah mengembalikan fungsi anak-anak sungai yang dahulu masih aktif mengalir, namun kini hilang akibat tertutup pembangunan, terutama kawasan permukiman.
"Data kami saat ini ada 512 sungai. Dari jumlah itu masih ada sekitar 30 anak sungai yang dulunya berfungsi, tetapi sekarang mati. Itu yang ingin kami hidupkan kembali," ungkapnya.
Dengan terbukanya kembali alur sungai tersebut, kapasitas tampungan air diharapkan meningkat sehingga air rob maupun limpasan hujan dapat terdistribusi ke jaringan sungai secara lebih merata dan tidak meluap ke jalan maupun kawasan permukiman.
Secara keseluruhan, Pemko sendiri menargetkan tambahan kapasitas tampung sungai mencapai sekitar 990 ribu meter kubik melalui normalisasi sekitar 55 kilometer alur sungai yang dinilai masih memungkinkan untuk dipulihkan.
Normalisasi tersebut mencakup pengerukan dengan target kedalaman rata-rata tiga meter dan lebar sekitar enam meter pada alur sungai yang mengelilingi kawasan pinggiran Kota Banjarmasin.
"Semakin panjang dan dalam sungainya, maka kapasitas tampungan air juga semakin besar. Itu yang sedang diupayakan sekarang," kata Chandra.
Untuk mempercepat pekerjaan, PUPR juga menyiapkan penambahan alat berat, termasuk ekskavator amfibi yang akan digunakan membuka kembali alur-alur sungai yang tertutup.
"Nanti berapa volume air yang belum tertampung akan kami hitung lagi agar bisa didistribusikan ke sungai-sungai tersebut. Harapannya, luapan air ke jalan dapat terus berkurang," tambahnya.
Sepanjang tahun 2026, data normalisasi sungai dengan pengerukan tercatat mencapai 49 titik. Di antaranya 14 pada Januari, tujuh pada Februari, enam pada Maret, tujuh pada Apri, enam pada Mei dan sembilan pada Juni.
Sisi lain, Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin, Khairina Rahmi mengatakan, program normalisasi sungai telah berjalan secara swakelola sejak Januari 2026. Hingga pertengahan tahun, progres pengerjaan telah mendekati 50 persen.
Pekerjaan sebelumnya difokuskan di wilayah Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur, kemudian berlanjut ke Banjarmasin Barat serta sejumlah titik prioritas lainnya berdasarkan masterplan pengendalian banjir.
Dalam beberapa bulan ke depan, PUPR juga akan merealisasikan kontrak sewa alat berat untuk menambah armada pengerukan.
Selain itu, ekskavator amfibi pinjaman dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III akan dimanfaatkan untuk membuka alur sungai yang selama ini tertutup.
Perempuan yang akrab disapa Emmy itu menambahkan, pihaknya telah mengidentifikasi sekitar 10 hingga 20 titik sungai yang perlu dibuka kembali, di antaranya berada di kawasan Pangeran, Sungai Lulut, hingga beberapa kawasan perumahan yang menutup jalur sungai lama.
“Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas tampung air sekaligus memperlancar konektivitas antaraliran sungai,” pungkasnya.
Editor : M Oscar Fraby