RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Suara gemuruh minyak dari wajan besar memecah kesunyian pagi di pasar sejumput, Jalan Kemuning, Kelurahan Loktabat Selatan, Banjarbaru.
****
Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 Wita. Para pedagang mulai membuka lapak, sementara pembeli berdatangan mencari kebutuhan untuk mengawali hari.
Di antara hiruk pikuk pasar, aroma pisang goreng yang baru matang menguar dari sebuah gerobak kayu sederhana yang berdiri di tepi jalan.
Di balik gerobak itu, Bu Naim tampak sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan mengangkat gorengan yang telah berubah warna menjadi kuning keemasan.
Sesekali ia menyapa pelanggan yang datang, lalu membungkus pesanan dengan gerakan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.
Pemandangan tersebut bukan hal baru. Sejak 2006, perempuan paruh baya itu setia berjualan gorengan di tempat yang sama. Pisang goreng, tempe goreng, tahu goreng, bakwan hingga sukun goreng tersusun rapi di atas nampan.
Namun ada satu hal yang membuat lapaknya berbeda dari kebanyakan pedagang gorengan lainnya. Yakni harga jualnya.
Di saat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dari tahun ke tahun, Bu Naim masih mempertahankan harga gorengannya Rp1.000 per biji.
Harga yang bagi sebagian orang mungkin terdengar mustahil di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Selama hampir dua dekade berjualan, Bu Naim telah berkali-kali menyaksikan harga bahan baku melonjak. Harga minyak goreng naik, harga tepung berubah, begitu pula harga pisang dan bahan lainnya. Namun ia memilih tidak mengikuti arus.
"Kasihan orang kalau saya naikkan harganya. Banyak pelanggan saya di sini pedagang pasar dan warga sekitar. Tidak apa-apa untung sedikit, yang penting masih bisa membantu orang," ujarnya sambil tersenyum.
Rezeki Bukan Soal Untung Besar
Bagi Bu Naim, berdagang bukan sekadar soal menghitung selisih modal dan keuntungan. Ada nilai lain yang ia pegang teguh sejak pertama kali membuka usaha.
Menurut Bu Naim, rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya keuntungan yang diperoleh setiap hari. "Kalau rezeki sudah ada yang ngatur. Tugas kita cuma berusaha, jujur, dan bersyukur," tuturnya.
Keyakinan itulah yang membuat ia tetap tenang menjalani usahanya, bahkan ketika banyak pelaku usaha lain terpaksa menaikkan harga karena biaya produksi yang semakin tinggi.
Menariknya, keputusan mempertahankan harga murah justru membuat lapaknya tidak pernah sepi pembeli.
Sejak dibuka pukul 6 pagi, pelanggan terus berdatangan silih berganti. Beberapa membeli untuk sarapan, sebagian lagi membawa pulang gorengan untuk keluarga di rumah.
Pisang goreng menjadi menu yang paling banyak dicari. Rasa manis pisang yang berpadu dengan gurihnya adonan tepung terasa semakin nikmat ketika disantap bersama cocolan saus petis yang menjadi ciri khas lapaknya.
Menjelang pukul 9 pagi, beberapa nampan mulai terlihat kosong. Bu Naim menunjuk sisa dagangannya yang tinggal sedikit. "Ini saja sudah hampir habis. Alhamdulillah," katanya.
Namun filosofi hidup Bu Naim tidak berhenti pada soal harga murah. Di tengah maraknya budaya berutang untuk memenuhi kebutuhan maupun mengembangkan usaha, ia memilih jalan yang berbeda.
Selama hampir 20 tahun berdagang, Bu Naim mengaku tidak pernah meminjam uang untuk modal usaha. "Saya tidak pernah berutang untuk modal jualan. Semoga selamanya enggak ada urusan sama utang-piutang," ujarnya tegas.
Prinsip itu ia pegang karena ingin menjalani hidup dengan tenang tanpa dibayangi kewajiban membayar cicilan atau utang.
Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Bu Naim merasa apa yang didapat sudah lebih dari cukup. Keuntungan kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit justru mampu menghidupi keluarganya selama bertahun-tahun.
Bahkan dari gerobak sederhana itulah ia membesarkan ketiga anaknya hingga dewasa. "Meski jualan ini keuntungannya kecil, tetap Alhamdulillah bisa hidupin anak-anak," ungkapnya. (al/ris)
Editor : Arief