RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Masyarakat Kota Banjarbaru dan sekitarnya diimbau untuk tetap waspada terhadap kualitas udara akhir-akhir ini.
Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat PM2.5 di wilayah Banjarbaru sempat melonjak tajam hingga menyentuh kategori Berbahaya pada Senin (20/7) pukul 07.00 Wita.
Pantauan dari stasiun pemantauan BMKG menunjukkan angka konsentrasi partikulat berada di tingkat yang sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai 497 µg/m³.
Kategori berbahaya ini mengindikasikan potensi gangguan kesehatan serius bagi masyarakat jika beraktivitas di luar ruangan tanpa pelindung.
Namun, seiring bergantinya waktu dan meningkatnya suhu udara, kondisi polusi tersebut berangsur-angsur meluruh.
Pada pukul 11.00 Wita, BMKG mencatat penurunan drastis konsentrasi PM2.5 menjadi 17,6 µg/m³, sehingga statusnya turun ke kategori Sedang.
Grafik riwayat harian menunjukkan lonjakan ekstrem hanya terjadi pada kurun waktu pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, sebelum akhirnya merosot ke zona biru (Sedang) hingga siang hari.
Merespons fenomena ini, Kepala Seksi (Kasi) Pemantauan, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Tuti, membenarkan adanya penurunan kualitas udara di wilayahnya.
Ia menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan dampak langsung dari meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Menyikapi meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Kota Banjarbaru terus melakukan pengawasan. Saat ini kualitas udara di Banjarbaru memang mengalami penurunan akibat dampak asap karhutla, namun kondisi terus dipantau untuk mengetahui perkembangan dan tingkat risikonya," ungkapnya.
Tuti juga mengungkapkan bahwa dalam melakukan pemantauan ini, pihaknya harus mengacu pada stasiun regional terdekat.
Hal ini dikarenakan fasilitas pemantau milik Pemkot Banjarbaru sedang mengalami kendala teknis.
"Karena AQMS (Air Quality Monitoring System) punya LH Kota Banjarbaru saat ini lagi rusak, maka kami mengambil data dari kabupaten terdekat," tambahnya.
Langkah tersebut sejalan dengan rilis data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui aplikasi ISPUnet.
Pada pukul 13.00 Wita wilayah Kabupaten Banjar berada di parameter kualitas udara Sedang dengan nilai ISPU 70, yang didominasi oleh parameter PM2.5.
Tingkat kualitas udara pada level sedang ini dinilai masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan, DLH Banjarbaru menerbitkan sejumlah rekomendasi penting bagi warga kota.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, serta menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih," tegas Tuti.
Selain proteksi diri, ia juga meminta komitmen bersama dari warga untuk tidak memperparah keadaan.
"Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memperburuk kualitas udara," pungkasnya.
Editor : Sutrisno