Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Headway Bus Trans Banjarmasin Masih Sekitar 30 Menit, Belum Memenuhi Ketentuan Permenhub

Zulvan Rahmatan • Jumat, 17 Juli 2026 | 15:05 WIB
JEMPUT: Salah satu titik jemput Bus Trans Banjarmasin. Jarak kedatangan antarbus (headway) masih berkisar 30 menit, masih lebih lama dibanding ketentuan yang ditetapkan Permenhub. (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
JEMPUT: Salah satu titik jemput Bus Trans Banjarmasin. Jarak kedatangan antarbus (headway) masih berkisar 30 menit, masih lebih lama dibanding ketentuan yang ditetapkan Permenhub. (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Meski telah beroperasi, waktu tunggu Bus Trans Banjarmasin di sejumlah titik pemberhentian masih belum memenuhi standar pelayanan minimal.

Saat ini, jarak kedatangan antarbus (headway) masih berkisar 30 menit. Lebih lama dibanding ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.

Dasarnya, mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 98 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.

Dalam regulasi tersebut, headway pada jam sibuk (peak hour) ditetapkan berkisar 15 hingga 20 menit. Artinya, masih ada selisih kedatangan Bus Trans Banjarmasin sekitar 10 menit.

Kondisi itu dibenarkan Kepala Bidang Angkutan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin, Rio Surachman.

Menurutnya, angkutan pelayanan masyarakat yang disediakan pemerintah masih terus berproses guna mencapai standar mutu pelayanan.

“Layanan angkutan ini baru ada tahun 2024 akhir. Dibanding jumlah koridor yang ada, jalannya armada masih belum bisa mencapai ketentuan headway. Perlu peningkatan,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Ia menegaskan, koridor dan armada Bus Trans Banjarmasin juga masih perlu diperbanyak. Target tersebut masih masuk dalam rencana pemerintah kota, khususnya Dishub, namun secara bertahap.

Meski demikian, masyarakat tetap dapat memantau pergerakan Bus Trans Banjarmasin secara real time melalui aplikasi Halte BTS Go yang tersedia di Play Store maupun App Store.

Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mengetahui posisi armada, titik naik dan turun penumpang, serta memperkirakan waktu kedatangan bus di halte tujuan.

"Jadi masyarakat bisa melihat langsung pergerakan armada dan lokasi pemberhentian bus melalui aplikasi," tambah Rio.

Di sisi lain, pihaknya terus mengembangkan sistem transportasi publik yang terintegrasi. Tidak hanya menambah armada, tetapi juga memperkuat infrastruktur pendukung seperti halte, rambu bus stop, hingga wayfinding.

Dikatakannya, pembangunan halte maupun fasilitas pendukung dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran. 

Rata-rata setiap tahun Pemko membangun sekitar enam hingga tujuh halte baru, terutama untuk mendukung koridor yang baru beroperasi.

Saat ini jumlah halte permanen telah mencapai lebih dari 50 unit. Belum termasuk rambu bus stop dan wayfinding yang memiliki fungsi serupa sebagai titik naik dan turun penumpang.

"Bedanya, halte memiliki bangunan dan atap, sedangkan bus stop berupa rambu penanda. Idealnya ketiga fasilitas itu berada dalam satu titik," jelasnya.

Namun, realisasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Penempatan halte maupun bus stop terkadang terkendala penolakan warga atau keterbatasan ruang karena berada di depan bangunan milik masyarakat.

Dalam menentukan lokasi halte, Dishub mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari jarak antartitik, tingkat kepadatan penumpang, hingga kedekatan dengan persimpangan agar tidak memicu kemacetan.

Secara ideal, jarak antar titik pemberhentian berada di kisaran 500 meter. Meski demikian, belum seluruh koridor dapat memenuhi ketentuan tersebut karena masih menyesuaikan kondisi lapangan.

Ke depan, pengembangan transportasi publik tidak hanya berfokus pada penambahan halte. Dishub juga menargetkan integrasi antarmoda transportasi, baik darat maupun sungai.

"Kami ingin transportasi darat dan sungai saling terhubung. Kalau nanti ada penambahan armada, arahnya juga untuk memperkuat konektivitas menuju kawasan Sungai Lulut," katanya.

Ia menambahkan, integrasi tersebut mencakup koneksi antara bus dengan angkutan sungai maupun moda transportasi darat lainnya sehingga perpindahan penumpang menjadi lebih mudah dan waktu tunggu semakin singkat.

Saat ini Kota Banjarmasin telah memiliki sebanyak 26 unit armada. 9 di antaranya, angkutan merah putih yang didesain menjangkau permukiman padat penduduk.

Sementara, terdapat tujuh koridor Bus Trans Banjarmasin. Ke depan, pemerintah menargetkan seluruh 13 koridor yang telah direncanakan dapat terlayani secara bertahap, disertai penambahan armada agar headway atau waktu tunggu antarbus semakin ideal.

Editor : Sutrisno
Bus Trans Banjarmasin banjarmasin