RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin terus mematangkan konsep integrasi transportasi darat dan sungai.
Angkutan sungai berbasis kelotok disiapkan masuk ke dalam sistem angkutan umum reguler yang terhubung dengan transportasi jalan.
Kepala Dishub Kota Banjarmasin, Slamet Begjo mengatakan, tujuan utama integrasi tersebut adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat saat berpindah moda transportasi.
Penumpang nantinya dapat berganti dari angkutan sungai ke angkutan darat maupun sebaliknya tanpa hambatan.
"Konsep integrasi itu bagaimana masyarakat lebih mudah melakukan mobilitas. Karena Banjarmasin memiliki angkutan sungai dan angkutan jalan, maka fokus kami menghubungkan keduanya agar pengguna jasa bisa berpindah secara langsung atau seamless," ujarnya kepada wartawan Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, fondasi integrasi transportasi sebenarnya sudah dimulai sejak 2023 dengan beroperasinya Hub Nol Kilometer. Fasilitas tersebut kini menjadi titik temu berbagai moda transportasi darat, mulai angkutan bandara, Trans Banjarmasin hingga Trans Banjarbakula.
Ia menyebut, keberadaan Hub Nol Kilometer mendapat respons positif dari masyarakat. Jumlah pengguna terus meningkat sehingga memperkuat kebutuhan menghubungkan layanan tersebut dengan angkutan sungai.
Meski demikian, integrasi menuju transportasi sungai belum berjalan sepenuhnya. Saat ini, kelotok masih lebih banyak dimanfaatkan untuk sektor wisata dibandingkan sebagai angkutan umum harian.
Karena itu, Dishub membidik dukungan pendanaan melalui APBD Perubahan 2026 agar layanan angkutan sungai reguler bisa segera dioperasikan sekaligus terintegrasi dengan sistem transportasi darat.
"Kalau dukungan anggarannya tersedia, kami siap mengoperasikan angkutan umum sungai reguler yang terintegrasi," tegasnya.
Dari sisi infrastruktur, dia memastikan Banjarmasin telah memiliki sarana pendukung yang memadai. Dermaga maupun titik penghubung antarmoda telah dibangun dan siap dimanfaatkan.
Rute yang disiapkan pun akan menghubungkan kawasan-kawasan pinggiran Kota Banjarmasin. Mulai dari Mantuil atau Kuin Kacil menuju kawasan Balai Kota, kemudian terkoneksi ke wilayah utara, timur hingga Sungai Lulut, serta kawasan barat kota.
"Sisi prasarananya sudah siap. Nantinya rute akan menghubungkan wilayah ujung ke ujung agar masyarakat memiliki pilihan transportasi yang lebih mudah," jelasnya.
Meski masuk ke sistem transportasi modern, Dishub memastikan identitas Kota Seribu Sungai tetap dipertahankan. Armada yang digunakan tetap berupa kelotok sehingga nuansa budaya lokal tetap menjadi ciri khas angkutan umum sungai di Banjarmasin.
"Dengan integrasi tersebut, pemerintah berharap transportasi publik di Banjarmasin semakin efisien, mudah diakses, sekaligus mampu menghidupkan kembali fungsi sungai sebagai jalur mobilitas masyarakat, bukan hanya sebagai destinasi wisata," ujarnya.
Editor : Sutrisno