RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Pemerintah Kota Banjarmasin terus mempercepat program normalisasi sungai sebagai upaya mengurangi risiko banjir. Hingga Juni 2026, sebanyak 49 titik sungai telah dikeruk, dan ditargetkan bertambah menjadi 100 titik hingga akhir tahun.
Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin mencatat pengerukan dilakukan di 14 sungai pada Januari, tujuh sungai (Februari), enam sungai (Maret), tujuh sungai (April), enam sungai (Mei), dan sembilan sungai sepanjang (Juni).
Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Khairina Rahmi mengatakan sebagian besar pekerjaan sejak awal tahun difokuskan di Kecamatan Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur. "Wilayah tersebut sudah banyak dikerjakan sejak awal tahun. Saat ini, fokus pengerjaan mulai bergeser ke Kecamatan Banjarmasin Barat," ujarnya, Selasa (7/7).
Menurut Emmy, sapaan akrabnya, hingga pertengahan tahun progres normalisasi sungai telah mencapai hampir 50 persen. Ia optimistis target 100 titik pengerukan dapat tercapai hingga akhir tahun melalui kombinasi pengerjaan menggunakan alat berat dan metode manual. "Hingga pertengahan tahun 2026, progres pekerjaan sudah berjalan hampir 50 persen," katanya.
Normalisasi dilakukan dengan target kedalaman sungai minimal dua hingga 2,5 meter agar daya tampung air meningkat dan aliran menjadi lebih lancar.
Selain pengerukan secara swakelola, pemko juga berencana menambah alat berat amfibi melalui sistem sewa untuk mempercepat pekerjaan di lapangan.
Meski demikian, proses normalisasi masih menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari keterbatasan alat berat hingga sulitnya akses menuju lokasi pengerukan karena terhalang bangunan warga.
Emmy menegaskan normalisasi sungai tetap menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah, karena berperan penting dalam meningkatkan kapasitas sungai, mengurangi luapan air, dan mengendalikan genangan saat musim hujan.
Penentuan lokasi pengerukan masih mengacu pada masterplan pengendalian banjir berbasis kawasan. Prioritas diberikan pada wilayah yang memiliki tingkat genangan tertinggi dan waktu surut paling lama. "Kami masih menggunakan skala prioritas berdasarkan studi genangan sebagai acuan utama dalam penanganan banjir di Banjarmasin," pungkasnya.
Baca Juga: Setiap Air Pasang Warga Selalu Cemas, Normalisasi Sungai Dikebut
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief