RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Meski sejak 2023 berstatus bebas titik panas (hotspot) sementara, Kota Banjarmasin tetap mewaspadai imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin, Husni Thamrin menjelaskan, ancaman utama justru bukan berasal dari wilayah kota, melainkan kabut asap kiriman dari daerah tetangga jika terdapat insiden kebakaran lahan skala besar.
Menurutnya, luas wilayah rawan hotspot di Banjarmasin terus berkurang, bahkan sementara sudah hilang seiring perkembangan kawasan permukiman.
Namun, posisi geografis kota yang berbatasan langsung dengan sejumlah daerah rawan karhutla membuat dampak asap tetap sulit dihindari.
"Kebakaran lahan yang besar biasanya terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan Banjarmasin. Asapnya yang berpotensi masuk," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Karena itu, BPBD bersama instansi terkait telah memiliki berbagai rencana terkait langkah mitigasi lintas sektor untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Menurutnya, di sektor kesehatan, puskesmas biasanya diminta mengoptimalkan pelayanan bagi penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di kawasan perbatasan yang paling rentan terdampak asap kiriman.
Selain itu, pemerintah juga memastikan kesiapan stok masker untuk dibagikan kepada masyarakat apabila kualitas udara mulai menurun.
Kemudian, di sektor pendidikan, pemerintah kerap melakukan penyesuaian skema jam belajar.
“Biasanya, sekolah tidak serta-merta diliburkan, melainkan jam masuk dapat diundur agar siswa tidak terpapar kabut asap yang umumnya lebih pekat pada pagi hari,” katanya.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui edaran wali kota dan BPBD.
Warga diimbau tidak membakar sampah sembarangan, melakukan pemilahan sampah dari rumah, serta menggunakan masker, topi dan pakaian lengan panjang saat beraktivitas di luar ruangan.
Husni menambahkan, apabila kondisi kemarau berkepanjangan dan kabut asap kiriman mulai mengkhawatirkan, pemerintah daerah akan mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan melalui BPBD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan BNPB.
"Tujuannya untuk membasahi lahan gambut yang terbakar sehingga titik api bisa dipadamkan dan produksi asap dapat ditekan," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya belajar dari pengalaman penanganan karhutla sebelumnya.
Pada kebakaran lahan gambut, api tidak cukup dipadamkan di permukaan karena bara masih bisa tersimpan di lapisan bawah tanah.
Karena itu, proses pembasahan harus dilakukan hingga air benar-benar meresap dan muncul kembali ke permukaan guna memastikan api padam secara menyeluruh.
Menurut Husni, keberadaan barisan pemadam kebakaran swasta juga menjadi salah satu kekuatan Kota Banjarmasin dalam menghadapi ancaman karhutla.
Pengalaman pada 2023 menunjukkan banyak relawan damkar yang mampu bergerak cepat ke lokasi kebakaran sebelum api meluas.
Dari hasil evaluasi, sebagian besar titik panas yang ditemukan saat itu dipicu oleh kelalaian manusia, terutama aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan sebelum api benar-benar padam.
"Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, terutama saat musim kemarau," pungkasnya.
Editor : Arif Subekti