Meski Tak Ada Titik Hotspot di Banjarmasin Sejak 2023, BPBD Tetap Perketat Pengawasan

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Rabu, 24 Juni 2026 | 11:35 WIB
SEMPROT: Relawan Masyarakat Peduli Api Liang Anggang memadamkan api yang membakar lahan gambut di wilayah Pengayuan, Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru tahun 2023 lalu. (foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
SEMPROT: Relawan Masyarakat Peduli Api Liang Anggang memadamkan api yang membakar lahan gambut di wilayah Pengayuan, Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru tahun 2023 lalu. (foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin memastikan hingga saat ini tidak ditemukan titik panas (hotspot) di wilayah Kota Seribu Sungai. Meski demikian, pengawasan tetap diperketat mengingat potensi kebakaran lahan masih bisa muncul saat musim kemarau.

Kepala BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin mengatakan kondisi nihil hotspot yang terjadi saat ini merupakan perkembangan positif dibanding beberapa tahun lalu. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk mengurangi kewaspadaan. “Sejak 2023 hingga sekarang, hotspot sudah tidak ada. Tapi ini bukan berarti kita lengah, karena potensi tetap ada jika terjadi kemarau ekstrem,” ujarnya, Selasa (23/6).

Berdasarkan data BPBD, terakhir kali hotspot terdeteksi di Banjarmasin pada 2023, dengan jumlah mencapai 41 titik. Sebagian besar ditemukan di kawasan rawan kebakaran lahan yang berada di wilayah pinggiran kota dan berbatasan dengan daerah lain.

Di Kecamatan Banjarmasin Selatan, titik panas banyak ditemukan di lahan tidur sekitar Kelurahan Tanjung Pagar yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar. Sementara di Banjarmasin Utara, kawasan rawan berada di Sungai Andai yang berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala.

Hotspot juga sempat muncul di Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, yang didominasi area persawahan kering dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar.

Menurut Husni, berkurangnya hotspot tidak lepas dari berbagai upaya pengawasan yang dilakukan pemerintah. Selain itu, sejumlah lahan kosong yang sebelumnya menjadi lokasi rawan kebakaran kini telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.

Salah satu contohnya berada di kawasan Sungai Andai. Area yang sebelumnya didominasi lahan kosong kini berkembang menjadi kompleks perumahan, sehingga risiko kebakaran lahan ikut berkurang.

Meski demikian, BPBD tetap menempatkan sejumlah kawasan sebagai prioritas pemantauan. Terutama wilayah perbatasan yang masih memiliki lahan kosong dan vegetasi kering. “Bukan berarti sudah tidak ada hotspot lalu selesai. Potensi tetap ada apabila terjadi kemarau panjang, sehingga patroli dan pemantauan tetap kami lakukan,” tegasnya.

Husni juga mengingatkan bahwa hotspot pertama yang terdeteksi pada 2023 justru berasal dari Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih sebelum lokasi tersebut ditutup. Saat itu, kebakaran dipicu gas metana yang terbentuk dari tumpukan sampah lama. Ketika suhu udara meningkat dan kondisi mengering, gas tersebut memicu kebakaran dari dalam timbunan sampah. Beruntung, api berhasil dikendalikan dengan cepat berkat kerja sama BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, dan relawan pemadam kebakaran, sehingga tidak meluas ke area lain.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief M
BPBD banjarmasin Kebakaran Hutan