Kalsel Belum Punya Pesantren Tunarungu, Pemko Banjarbaru Fasilitasi Habibi Sekolah ke Yogyakarta
M Fadlan Zakiri• Selasa, 16 Juni 2026 | 14:19 WIB
MENGANTAR: Asisten I Setdako Banjarbaru Rizana Mirza menyerahkan Habibi, anak penyandang tunarungu, kepada pengelola Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Tunarungu Darul Ashom di Sleman, Yogyakarta. (Rizana Mirza untuk Radar Banjarmasin)RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Kalimantan Selatan hingga kini belum memiliki pesantren yang secara khusus melayani penyandang tunarungu.
Kondisi itu membuat Habibi, anak asal Banjarbaru, harus menempuh pendidikan hingga ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk memastikan Habibi mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Sosial memfasilitasi keberangkatannya ke Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Tunarungu Darul Ashom di Kabupaten Sleman.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Banjarbaru, Rizana Mirza mengatakan, keputusan mengirim Habibi ke Yogyakarta diambil setelah pihaknya menilai belum tersedia lembaga pendidikan keagamaan, yang mampu memberikan layanan khusus bagi penyandang tunarungu.
"Di Banjarbaru saat ini belum tersedia lembaga pendidikan keagamaan yang secara khusus menangani penyandang tunarungu seperti Darul Ashom," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2026) siang.
Menurut Mirza, setiap anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan pendidikan yang berbeda, agar proses belajar dapat berlangsung secara optimal.
Karena itu, pemerintah daerah berupaya memastikan Habibi memperoleh akses pendidikan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga mendukung perkembangan keagamaan dan kemandiriannya.
“Karena itulah kami berupaya mencarikan tempat terbaik agar Habibi memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” imbuhnya.
Darul Ashom sendiri, jelas Mirza, dikenal sebagai salah satu pelopor pesantren tunarungu di Indonesia.
Lembaga yang berdiri pada 2019 itu mengembangkan sistem pembelajaran berbasis bahasa isyarat dan komunikasi visual, untuk membantu penyandang hambatan pendengaran mempelajari ilmu agama maupun pendidikan formal.
Selain mempelajari tauhid, fikih, akhlak, tahsin, dan tahfidz Al-Qur'an, para santri juga mengikuti pendidikan formal melalui program kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Seluruh proses pembelajaran dirancang khusus agar mudah dipahami penyandang tunarungu, sehingga para santri dapat memahami materi keagamaan sekaligus mengembangkan kemampuan hidup mandiri,” jelasnya.
Pemko Antar Langsung Habibi ke Darul Ashom
Sebagai bentuk keseriusan memastikan proses penempatan berjalan baik, Rizana Mirza turut mengantarkan dan menyerahkan langsung Habibi kepada pengelola pesantren.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga bertemu dengan pendiri Darul Ashom, Ustadz Abu Kahfi, untuk melihat secara langsung sistem pendidikan dan pola pembinaan yang diterapkan.
"Kami melihat langsung para santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar dengan penuh semangat dan mendapatkan pembinaan yang sangat baik," ungkap Mirza.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin menguatkan keyakinan pemerintah daerah bahwa Habibi mendapatkan lingkungan belajar yang tepat untuk mengembangkan potensinya.
"Ini membuat kami semakin yakin bahwa Habibi berada di tempat yang tepat untuk mengembangkan potensinya," katanya.
Jalani Masa Adaptasi Selama Sebulan
Setibanya di pesantren, Habibi akan menjalani masa orientasi dan adaptasi selama sekitar satu bulan.
Selama periode tersebut, keluarga maupun pihak lain belum diperkenankan melakukan kunjungan agar proses penyesuaian lingkungan berjalan maksimal.
Meski berada di Yogyakarta, pendampingan terhadap Habibi dipastikan tetap dilakukan.
Untuk mengetahui perkembangan pendidikan maupun kondisi kesehariannya, katairza, Dinas Sosial Kota Banjarbaru, akan melakukan pemantauan berkala melalui komunikasi dengan pihak pesantren.
Mirza menerangkan bahwa saat ini Darul Ashom menampung ratusan santri tunarungu dari berbagai daerah di Indonesia.
Sehingga, kehadiran Habibi di pesantren tersebut menjadi salah satu upaya membuka akses pendidikan keagamaan yang lebih inklusif bagi anak berkebutuhan khusus yang belum dapat terlayani di daerah asalnya.
"Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak adalah hal yang penting. Kami berharap Habibi dapat belajar dengan baik dan mengembangkan potensinya secara maksimal di sana," tutup Mirza