Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Harga Cabai di Banjarmasin Makin Pedas, Pembeli Mulai Mengerem

Endang Syarifuddin • Minggu, 7 Juni 2026 | 13:34 WIB
MAKIN MAHAL: Pasca-Iduladha, harga cabai rawit di Banjarmasin melonjak hingga Rp120 ribu per kilogram sehingga membuat sebagian masyarakat mengurangi jumlah pembelian.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)
MAKIN MAHAL: Pasca-Iduladha, harga cabai rawit di Banjarmasin melonjak hingga Rp120 ribu per kilogram sehingga membuat sebagian masyarakat mengurangi jumlah pembelian.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Harga sejumlah komoditas di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin mengalami kenaikan cukup tajam pasca-Iduladha. 
Kenaikan paling mencolok adalah cabai rawit. Harganya sekarang tembus Rp120 ribu per kilogram. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai mengurangi jumlah pembelian.
Meskipun aktivitas jual beli kebutuhan pokok terpantau berjalan normal namun  para pedagang mengakui harga beberapa jenis cabai dan tomat mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir.
Seperti di Pasar Sentra Antasari. Harga tomat yang sebelumnya berada di kisaran Rp9 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp14 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit yang biasanya dijual Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram kini mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram, kini harganya melonjak menjadi Rp65 ribu per kilogram.
Ahmad, salah seorang pedagang cabai di Pasar Sentra Antasari, mengatakan kenaikan harga mulai dirasakan setelah perayaan Iduladha. Meski tidak menyebabkan kerugian secara langsung, tingginya harga membuat daya beli masyarakat menurun.
“Kalau rugi sebenarnya tidak, cuma minat masyarakat untuk membeli turun sekitar 20 persen. Yang jadi kerugian kalau cabainya rusak atau kualitasnya menurun. Kenaikan harga ini terjadi setelah Iduladha,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Menurut Ahmad, konsumen kini lebih berhati-hati saat berbelanja. Jika biasanya membeli dalam jumlah banyak, sekarang banyak yang memilih membeli secukupnya.
Pedagang berharap pasokan dari daerah penghasil dapat kembali normal dalam waktu dekat. Dengan begitu harga cabai dan komoditas hortikultura lainnya bisa kembali stabil sehingga daya beli masyarakat ikut pulih.
Penurunan minat beli juga dirasakan oleh para konsumen. Atun, salah seorang warga Jalan Veteran yang berbelanja di Pasar Sentra Antasari. Ia  mengaku terkejut melihat harga cabai yang melonjak dalam waktu singkat.
“Biasanya beli setengah kilo atau satu kilo untuk stok di rumah. Sekarang beli sedikit saja dulu karena harganya mahal. Mudah-mudahan cepat turun lagi,” katanya.
Menurut Atun, kenaikan harga cabai cukup berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga karena cabai menjadi salah satu kebutuhan yang hampir selalu digunakan untuk memasak sehari-hari. "Tiap hari pasti bikin sambel untuk makan di rumah, karena mahal, otomatis sambelnya berkurang," tuturnya.

Akibat Penurunan Produksi di Tingkat Petani

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Banjarmasin, Faisal Akly, membenarkan adanya kenaikan harga cabai yang cukup signifikan.
Berdasarkan data pemantauan harga, pada awal Mei harga cabai masih berada di kisaran Rp40 ribuan per kilogram. Namun menjelang akhir Mei, harganya meningkat hingga Rp70 ribu sampai Rp80 ribu per kilogram dan terus mengalami kenaikan.
Menurut Akly, salah satu penyebab utama kenaikan harga adalah menurunnya produksi di tingkat petani akibat serangan penyakit pada tanaman cabai.
“Informasi yang kami terima, tanaman cabai di tingkat petani terserang penyakit cacar sehingga hasil panennya berkurang. Dampaknya pasokan menurun dan harga ikut naik,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya dengan membagikan bibit cabai kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sendiri kebutuhan cabai keluarga.
“Ini salah satu upaya kami bersama Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Banjarmasin untuk mendorong masyarakat menanam cabai sendiri. Harapannya bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan pasar,” katanya.
Ia menjelaskan, pasokan cabai untuk Banjarmasin selama ini masih mengandalkan pada sentra produksi lokal di Kalimantan Selatan. Karena itu, ketika produksi petani terganggu, dampaknya langsung terasa terhadap harga di pasaran.
Pihaknya berharap kondisi tanaman di daerah penghasil segera membaik dan hasil panen kembali meningkat sehingga pasokan normal dan harga cabai berangsur turun.
“TPID terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan stok di lapangan. Mudah-mudahan panen berikutnya lebih baik sehingga pasokan kembali lancar dan harga bisa stabil,” pungkas Akly.
Editor : Sutrisno
#harga #cabai rawit #banjarmasin