BANJARMASIN - Sejumlah rumah yang berdiri di atas bantaran Sungai Zafry Zam-zam, tepatnya di Jalan Tunas Baru, Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah kondisinya kini sudah tidak lagi kokoh, bahkan ada yang sudah ambruk.
Pemandangan tersebut tampak jika dilihat dari Jalan Zafry Zam-zam. Posisi belakangnya ada yang sudah rubuh, setengah rubuh hingga tampak ada yang bekas kebakaran.
Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat dua rumah bekas mengalami kebakaran. Sedangkan, lima rumah sudah dalam kondisi rubuh, dengan kondisi yang beragam.
Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin. Kepala Bidang Pengawasan Bangunan (Wasbang), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Pahriadi meminta pemantauan ketat area tersebut secara berkala.
“Pihak kelurahan kita minta sambil memantau. Kita larang dan imbau tidak membangun ulang atau merehab rumah mereka di atas sungai,” ujarnya. Jumat (5/6/2026).
Ia menegaskan, nekat membangun ulang tentu sangat berisiko keselamatan dan tidak efisien untuk jangka panjang.
Pasalnya, pemerintah telah memiliki program untuk pembebasan dan relokasi. Termasuk jalur tinggal warga di sana juga masuk dalam proyeksi National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Untuk itu, PUPR mengimbau warga agar tidak membangun kembali karena ada bangunan yang sudah tua, miring dan rawan ambruk.
Selain itu, pada akhirnya bangunan di bantaran tersebut juga akan dibongkar dan ditata ulang oleh pemerintah sebagai kawasan pengendali banjir.
“Rencananya ada pembebasan lahan untuk NUFReP. Di sana akan dibangun sarana infrastruktur seperti rumah pompa, makanya diimbau untuk tidak dibangun lagi lagi rumah yang sudah rusak,” tegasnya.
Selain itu, Pahriadi menambahkan pemerintah juga tengah menyiapkan program relokasi bagi warga yang terdapak proyek penertiban sungai melalui rumah susun atau Kampung Peradaban.
Meski demikian, hal tersebut dinilai memang tidak mudah, mengingat karakteristik Kota Banjarmasin dan sejarah sosial warga Kota Seribu Sungai.
“Mereka ini sudah puluhan tahun. Ada ada kehidupan dan mata pencaharian yang menyatu dengan sungai. Memindahkan mereka langsung tanpa menyediakan tempat baru akan sangat sulit,” jelas Pahriadi. (van)
Editor : Muhammad Rizky