RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Kebutuhan darah bagi pasien transfusi di rumah sakit kerap menjadi perhatian karena dinilai mendesak terhadap kebutuhan perawatan.
Tak jarang, pihak keluarga berinisiatif mencari pendonor sendiri, menyebarkan infomasi melalui sosial media. Namun, langkah itu justru dinilai tidak selalu menjadi jalan keluar terbaik.
PMI Kota Banjarmasin mengingatkan potensi yang menimbulkan informasi yang tidak akurat, terlebih situasi tersebut dinilai rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Banjarmasin, dr. Aulia Ramadhan Supit mengimbau masyarakat dan keluarga pasien agar langsung mengajukan surat permintaan darah ke PMI.
Hindari Potensi Darah Diperjualbelikan
Hal tersebut untuk menghindari potensi darah diperjualbelikan atau dijadikan ladang uang oleh pendonor yang memanfaatkan situasi, alias praktik calo darah.
“Daripada nanti malah dimanfaatkan oleh oknum untuk dijualbelikan,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Ia menegaskan, PMI Banjarmasin memiliki basis data pendonor yang cukup besar. Jumlahnya hampir 100 ribu pendonor untuk semua golongan darah, sehingga dapat membantu mencarikan calon pendonor sesuai kebutuhan pasien.
"Sebaiknya jangan share di sosial media, tapi ajukan ke PMI, kita akan carikan," imbaunya.
Selain itu, Ramadhan menyampaikan masyarakat tidak perlu khawatir terkait biaya darah.
Menurutnya, pelayanan darah saat ini telah ditanggung melalui program jaminan kesehatan yang berlaku sesuai ketentuan.
"Padahal darah sekarang sudah ditanggung oleh BPJS, jadi tidak lagi berbayar," ucapnya.
Jangan Sampai Dimanfaatkan Oknum
Sementara itu, pria yang akrab disapa dokter Rama ini juga membeberkan mekanisme paling tepat untuk keluarga pasien yang membutuhkan donor darah, yakni menyerahkan surat permintaan dari rumah sakit kepada PMI.
Permintaan tesebut akan ditindaklanjuti dengan proses pencarian dan penyediaan darah sesuai kebutuhan medis pasien.
"Jangan sampai keperluan pasien dimanfaatkaan oleh oknum. Kami akan carikan sesuai surat permintaan rumah sakit,” tegasnya.
Selama ini, dokter Rama menilai, pencarian pendonor darah yang beredar di masyarakat sudah tidak relevan. Mengingat, stok darah sudah tersedia di PMI dan dinilai telah memenuhi kebutuhan pasien.
Dalam sebuah pengalaman, dikatakannya, terdapat situasi yang mengharuskan keluarga pasien untuk lebih dahulu mencari pendonor secara mandiri.
Padahal, proses administrasi dan pengiriman sampel darah pasein ke PMI belum dilakukan.
“Biasanya surat belum masuk ke PMI, tapi sudah lebih dahulu berinisiatif mencari darah secara pribadi. Padahal stok kami ada,” jelasnya.
Meski demikian, dokter Rama mengakui bahwa stok darah ketersediaannya bersifat dinamis, sebab sewaktu-waktu kebutuhan darah dari sejumlah rumah sakit di Banjarmasin bisa melonjak.
Untuk itu, PMI terus berupaya menjaga ketersediaan stok darah yang dilakukan melalui sejumlah kegiatan donor atau pun datang langsung ke Kantor PMI di Jalan S. Parman.
Editor : Sutrisno