RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,BANJARMASIN - Di tengah dorongan program ketahanan pangan nasional, Kota Banjarmasin masih menghadapi tantangan besar di sektor pertanian. Keterbatasan lahan sawah membuat kebutuhan beras masyarakat belum sepenuhnya bisa dipenuhi dari produksi lokal.
Sebagai solusi, Pemerintah Kota Banjarmasin kini lebih fokus memperkuat sektor hortikultura melalui pemanfaatan lahan pekarangan warga. Program tersebut dijalankan melalui Pekarangan Pangan Lestari (PPL), dengan memaksimalkan lahan sempit menggunakan polybag dan sistem rak bertingkat.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Jenderawati mengatakan pengembangan hortikultura menjadi pilihan paling realistis untuk wilayah perkotaan seperti Banjarmasin. “Kita galakkan hortikultura. Kalau padi tentu tidak memungkinkan di lahan yang terbatas,” ujarnya, Jumat (22/5).
Program itu sebelumnya mendapat dukungan pemerintah pusat. Pada 2023, tercatat lima kelompok menerima bantuan program. Sementara pada 2024 meningkat menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 30 orang yang dibina untuk menanam berbagai komoditas hortikultura. Mulai dari cabai, tomat, bayam, pakcoy, terong hingga berbagai jenis sayuran lokal. “Walaupun lahannya sempit, tetap bisa dimanfaatkan dengan polybag dan rak bertingkat,” katanya.
Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, program tersebut juga diarahkan menggunakan pola tanam organik dengan penggunaan pestisida yang lebih minim.
Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Tapi, juga dapat menjadi tambahan penghasilan masyarakat. “Hasilnya bisa untuk kebutuhan gizi keluarga. Bahkan dijual kembali,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok juga memiliki target produksi.
Satu kelompok ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram panen per tahun.
Menurut Jenderawati, target tersebut sejauh ini mampu tercapai.
“Kalau tidak tercapai sebenarnya ada konsekuensi pengembalian bantuan karena ada perjanjian,” tegasnya.
Sementara untuk produksi beras, Banjarmasin masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Produksi beras lokal rata-rata berada di kisaran 10 ribu ton per tahun. Karena tingginya kebutuhan penduduk, pasokan beras masih banyak bergantung dari daerah sekitar seperti Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. “Karena kebutuhan penduduk besar, sebagian kebutuhan masih dipenuhi dari daerah tetangga,” ujarnya.
Saat ini luas lahan pertanian di Kota Banjarmasin tercatat sekitar 2.500 hektare. Wilayah terbesar berada di Kecamatan Banjarmasin Selatan dengan sekitar 1.400 hektare lahan pertanian. Berikutnya di Banjarmasin Timur seluas 444 hektare, Banjarmasin Utara sekitar 280 hektare, dan Banjarmasin Barat sekitar 27 hektare.
Namun tidak seluruh lahan aktif ditanami setiap musim. Pemanfaatan lahan juga sangat bergantung pada kesiapan dan persetujuan pemilik lahan.
“Kalau pemilik lahan tidak mengizinkan, tentu tidak bisa dipaksakan,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief