RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,BANJARMASIN - Kota Banjarmasin masih menjadi tujuan favorit para perantau, pencari kerja, hingga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia untuk menetap dan membangun kehidupan baru.
Potensi ekonomi yang dinilai masih menjanjikan, ditambah kondisi sosial yang relatif kondusif, membuat Kota Seribu Sungai terus menarik minat pendatang.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarmasin mencatat saat ini terdapat 26 forum atau paguyuban daerah yang beranggotakan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia yang menetap di Banjarmasin.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin menilai kondisi tersebut menjadi salah satu indikator tingginya tingkat keterbukaan dan toleransi masyarakat kota. Hal itu juga diperkuat dengan capaian Banjarmasin dalam Indeks Kota Toleran yang dirilis Setara Institute.
“Banjarmasin berada di posisi ke-13 dari 94 kota di Indonesia. Itu menunjukkan kapasitas toleransi kita masih berada dalam kondisi yang cukup baik,” ujarnya, Jumat (22/5).
Menurut Muzaiyin, penilaian tersebut tidak hanya dilihat dari satu aspek. Tapi, melalui berbagai indikator. Mulai dari keterlibatan organisasi kemasyarakatan, partisipasi tokoh masyarakat, kemampuan mitigasi persoalan sosial, hingga kecakapan pemerintah daerah menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Meski demikian, ia menegaskan Banjarmasin bukan kota yang sepenuhnya bebas dari persoalan sosial. Potensi gesekan antarindividu maupun kelompok masyarakat tetap ada. Namun sejauh ini masih dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. “Singgungan-singgungan sosial tetap ada potensinya. Namun kami berupaya mengantisipasi sebelum persoalan meluas,” katanya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat komunikasi dan koordinasi lintas organisasi masyarakat serta tokoh-tokoh daerah.
Forum perwakilan suku maupun organisasi kemasyarakatan di Banjarmasin disebut rutin melakukan pertemuan untuk membahas berbagai isu sosial yang berpotensi menimbulkan konflik. “Di situ berbagai persoalan dibahas, sehingga kita bisa lebih cepat mengantisipasi,” ujarnya.
Muzaiyin menjelaskan, beberapa persoalan yang muncul belakangan umumnya lebih bersifat konflik antarindividu atau kelompok kecil. Bukan benturan besar yang melibatkan keseluruhan suku atau etnis tertentu.
Benturan di lapangan, menurutnya, bisa dipicu berbagai persoalan. Mulai dari lahan, parkir, hingga kesalahpahaman. Namun ketika potensi konflik mulai terdeteksi, unsur intelijen hingga pimpinan organisasi masyarakat akan langsung membangun komunikasi untuk meredam situasi. “Komunikasi lintas kelompok menjadi salah satu cara efektif agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat Banjarmasin. “Bagaimana kita menekan potensi intoleransi agar menjadi ruang toleransi yang kuat,” tegasnya.
Selain itu, Kesbangpol mencatat saat ini terdapat sekitar 230 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang terdaftar di Kota Banjarmasin. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar separuh yang aktif melaporkan kegiatan secara berkala kepada pemerintah daerah. “Sebagian organisasi cukup aktif berkomunikasi dan berdiskusi dengan kami untuk pengembangan organisasi agar berjalan lebih baik,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief