RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,BANJARBARU - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru terus memangkas jumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) di pusat kota menyusul banyaknya keluhan warga soal bau menyengat dan pemandangan kumuh akibat sampah yang meluber ke jalan.
Berdasarkan data DLH Banjarbaru, jumlah TPS konvensional terus menurun. Dari yang semula 102 titik, kini hanya tersisa 85 titik setelah sejumlah TPS strategis ditutup pada tahun ini.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 pada DLH Banjarbaru, Jainah Muchran mengatakan penutupan mayoritas dilakukan atas desakan masyarakat dan rekomendasi teknis dinas. Salah satunya adalah TPS di dekat Kantor DKP3 Banjarbaru, tak jauh dari Lapangan Murjani.
"Ukuran TPS-nya kecil dan posisinya pas di bibir jalan. Karena di pusat kota, warga dari luar daerah ikut membuang ke sana, ditambah sampah dari pedagang kuliner sekitar Lapangan Murjani. Akibatnya sampah melimpah ke jalan dan menimbulkan bau," jelas Jainah, Jumat (22/5) siang.
Namun kebijakan ini tak berjalan mulus. Jainah mengakui penutupan kerap memicu protes warga di lokasi pengalihan yang baru.
Penutupan satu titik juga mengubah peta kerja dan jam operasional armada, serta memaksa pemindahan volume sampah ke TPS di pinggiran kota.
Di sisi lain, DLH Banjarbaru mengklaim telah membersihkan 30 dari 52 titik TPS liar yang muncul akibat kebiasaan warga membuang sampah sembarangan.
Jainah mengungkapkan pengurangan TPS membuat kapasitas penampungan di hilir makin kritis. Apalagi dengan 50 armada pengangkut yang ada saat ini, kondisi dinilai pas-pasan. Jika satu-dua truk trouble, rotasi pengangkutan dipastikan terhambat.
"Solusinya, kami dorong agar setiap kelurahan punya satu TPS 3R. Di sana sampah dipilah bersama pemulung dan petugas kelurahan," pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief