RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Realisasi Pendapatan Daerah Kota Banjarmasin hingga triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp752,6 miliar, atau sekitar 35,95 persen dari total target APBD sebesar Rp2,09 triliun.
Dari jumlah tersebut, pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp530 miliar dari target Rp1,3 triliun. Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah terealisasi sebesar Rp222,1 miliar atau 28,63 persen dari target Rp775,9 miliar.
Di antara sejumlah SKPD, ternyata Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin menjadi penyumbang PAD tertinggi sementara dengan capaian Rp6,16 miliar atau 41,75 persen dari target. Posisi berikutnya ditempati Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin sebesar Rp1,80 miliar, diikuti Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin Rp1,48 miliar.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarmasin mencatat realisasi Rp1,35 miliar, dan Dinas Ketahanan Pangan Perikanan dan Pertanian Kota Banjarmasin sebesar Rp400 juta.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah Kota Banjarmasin, Edy Wibowo mengatakan tingginya capaian DLH dipengaruhi sistem retribusi sampah yang terintegrasi dengan pembayaran rekening air PTAM Bandarmasih. “DLH ini diambil dari retribusi sampah melalui PTAM, karena masyarakat pasti bayar air bersih,” ujarnya, Kamis (14/5).
Kepala DLH Banjarmasin, Ichrom Muftezar menjelaskan retribusi kebersihan selama ini memang dipungut bersamaan dengan tagihan air pelanggan PTAM.
Menurutnya, sektor pengelolaan sampah cukup produktif dalam mendukung pendapatan daerah, meski target tahun sebelumnya belum sepenuhnya tercapai. “Kalau tidak salah targetnya sekitar Rp15 miliar. Tetapi tahun kemarin sepertinya masih belum tercapai,” ungkapnya.
Selain mengejar pendapatan, DLH juga mulai mengarahkan sistem pengelolaan sampah dari hulu atau tingkat rumah tangga. Masyarakat nantinya akan diedukasi melalui agen 3R untuk memilah sampah sejak dari rumah, termasuk membuat komposter mandiri untuk mengolah sampah organik.
“Sampah organik nantinya diarahkan ke tong drop point untuk diolah. Bukan lagi langsung dibuang ke TPS,” pungkasnya
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief