RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pedagang Pasar Harum Manis akhirnya berinisiatif membangun kembali tempat dagangannya di bekas lokasi kebakaran. Rela mengeluarkan uang dari kantong pribadi agar roda usahanya tetap berjalan.
****
Dentungan palu dan gesekan gergaji terdengar di Pasar Harum Manis, kawasan Pasar Lima, Banjarmasin. Tiang-tiang didirikan di atas puing-puing bekas kebakaran dan bekas bawang yang hangus berserakan.
Para pedagang bahu-membahu membangun ulang lapak berjualan pascakebakaran. Mereka memilih nekat, meski belum mendapat restu dari pemerintah.
Kerugian akibat kebakaran, ditambah lambannya perbaikan pasar, menjadi ujian berat bagi pedagang seperti Ridwan. Gudang penuh stok bawang dan sejumlah pangan yang baru saja datang justru jadi santapan amukan si jago merah pada 4 Mei 2026. Ia menyebut, kerugian dialaminya lebih dari Rp1 miliar.
Di saat ingin bangkit, ujian kembali muncul. Mereka tidak mendapat restu dari Pemerintah Kota Banjarmasin membangun lapak di atas lahan yang menjadi hak pakainya.
Ridwan memilih nekat. Ia membangun sendiri lapak dagangan. Memulai lagi usaha dari nol untuk mengatasi ancaman semakin bertambahnya kerugian. “Barang tidak sedikit masuk (pascakebakaran, red). Kami tidak bisa (hentikan perdagangan, red),” ujarnya, Kamis (14/5).
Pemerintah Kota Banjarmasin ingin membangun ulang pasar. Namun, biasanya sangat panjang prosesnya. Bahkan, sebelum mulai dibangun, harus menunggu dulu proses perencanaan. Belum lagi urusan proses anggaran, hingga lelang.
Sambil menunggu belum dimulainya pembangunan itu, para pedagang berencana mengajukan surat pernyataan atas nama Asosiasi Pedagang Bawang Merah Pasar Harum Manis. Surat tersebut, kata Ridwan, menegaskan bahwa pedagang bersedia membongkar lagi bangunan jika Pemko Banjarmasin melalui Perumda Pasar akan memulai rehabilitasi pasar yang diwacanakan. “Konsep surat sedang dibuat. Insya Allah besok dikirim. Kami minta izin untuk membangun sementara. Jika pemerintah ingin membangun pasar yang lebih bagus, kami bersedia untuk membongkar masing-masing,” jelasnya.
Pedagang meminta nanti mendapatkan pemberitahuan 20 hari sebelum pembongkaran. Memberi waktu pedagang memindahkan stok barang dagangan, sebelum proyek benar-benar dikerjakan.
Ridwan mengakui sempat ditawari opsi relokasi ke Pasar Sentra Antasari. Opsi tersebut terpaksa ditolak karena akan menambah beban operasional. Sedangkan untuk memulihkan usaha saat ini saja harus melalui perjuangan yang begitu melelahkan. “Di Pasar Sentra Antasari tidak dekat akses sungai, di sini ada (Pasar Harum Manis, red). Barang dari luar dikirim pakai kelotok,” tuturnya. Ia memohon pengertian dari pemerintah.
Pedagang lain, Andre, juga mulai membangun ulang tempat usahanya di lokasi kebakaran. Beberapa buruh pengupas dan pengangkutan bawang tampak tetap bekerja, meski berdampingan dengan lokasi pascakebakaran. Andre sendiri bersyukur masih bisa bangkit. Berbeda dengan teman-temannya sesama pengusaha, sedang dalam kondisi terpuruk. Sulit mencari pinjaman kepada keluarga maupun kerabat untuk memutar modal usaha lagi.
Selain itu, ada pula yang harus berbagi lapak agar tetap bisa berdagang. “Meski berat, saya masih mending. Masih banyak yang bingung karena tidak berani nekat membangun ulang,” jelas Ridwan.
Syaiful juga ingin membangun ulang. Namun, niat tersebut urung karena sempat mendapat teguran. Akhirnya, material kayu yang baru dibeli justru diberi tulisan “dijual”. “Pingin membangun, tapi agak takut. Modal bangun sendiri tidak sedikit. Apalagi berhadapan dengan kemungkinan rehabilitasi oleh pemerintah yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi,” ucapnya.
Pedagang Pasar Harum Manis Bangkit Pascakebakaran
Kebakaran Pasar Harum Manis
* Terjadi pada: 4 Mei 2026.
* Lokasi: Pasar Harum Manis, Pasar Lima, Banjarmasin.
Dampak
* Lapak dan gudang terbakar.
* Stok bawang dan bahan pangan hangus.
* Pedagang mengalami kerugian besar.
* Banyak pedagang kehabisan modal usaha dan kesulitan mencari pinjaman.
Tolak Relokasi ke Sentra Antasari
* Tidak dekat akses sungai.
* Distribusi barang lebih sulit.
* Biaya operasional bertambah.
Inisiatif Pedagang
* Mendirikan lapak di atas puing kebakaran.
* Menggunakan dana pribadi.
* Menyelamatkan usaha agar tetap berjalan.
* Hendak ajukan izin lapak sementara.
* Siap membongkar kembali jika rehabilitasi dimulai Pemko.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief