RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Warga Kampung Alalak Selatan RT 2 Banjarmasin sempat dibuat geger dengan kabar seorang pria diduga tenggelam di Sungai Barito, Selasa (12/5) sore. Informasi tersebut langsung direspons cepat oleh Tim Selam Tradisional Water Rescue Alalak Selatan Banjarmasin yang markasnya berada tak jauh dari lokasi kejadian.
Setelah berkoordinasi, tim segera bergerak melakukan pencarian. Pencarian dipimpin Humas sekaligus Koordinator Lapangan Tim Selam Tradisional Water Rescue Banjarmasin, Zainal Abdi. Sejumlah penyelam andalan diterjunkan menyisir dasar Sungai Barito menggunakan peralatan tradisional.
Derasnya arus sungai dan kondisi air pasang sempat menjadi tantangan. Namun hanya sekitar 10 menit sejak penyelaman dimulai, korban berhasil ditemukan di dasar sungai dalam kondisi tidak bernyawa. Korban kemudian dievakuasi ke RSUD Ulin Banjarmasin untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, suasana mencekam itu ternyata hanyalah simulasi penyelamatan yang digelar Tim Selam Tradisional Water Rescue Alalak Selatan Banjarmasin dalam rangka memperingati HUT ke-11 komunitas tersebut pada 12 Mei 2026.
Zainal Abdi menjelaskan, kegiatan ini merupakan kali kedua dilaksanakan sebagai bagian dari peringatan hari jadi komunitas. Simulasi kali ini melibatkan generasi muda atau anggota junior yang didampingi para senior.
“Selain bentuk rasa syukur karena komunitas sudah 11 tahun berkiprah dalam kegiatan sosial, khususnya operasi SAR di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, kegiatan ini juga untuk memotivasi regenerasi tim,” ujarnya.
Menurut Zainal, latihan seperti ini penting untuk menjaga semangat anggota, sekaligus menanamkan jiwa sosial dan kedisiplinan saat menjalankan operasi SAR. “Yang selalu kami tekankan adalah bekerja hati-hati dan jangan gegabah. Medan yang dihadapi berisiko, kondisi sungai selalu berbeda, sehingga anggota harus mampu membaca situasi dan menjaga koordinasi,” katanya.
Ia menambahkan, simulasi juga menjadi sarana mengasah mental anggota muda. Sebab dalam operasi penyelamatan sungguhan, keberanian saja tidak cukup. “Ketika menemukan korban yang sudah menjadi jenazah, mental mereka harus siap untuk mengangkat korban dari dasar sungai ke permukaan. Jadi yang dibutuhkan bukan hanya keberanian, tetapi juga kehati-hatian, mental kuat, dan fokus,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief