RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Aksi diduga pencurian fasilitas umum kembali terjadi di Kota Banjarmasin.
Kali ini, menyasar Jembatan Cemara Ujung-Sungai Andai (Cusa) yang kondisinya selesai secara fisik, namun belum dioperasikan karena sejumlah kendala.
Pantauan di lokasi, sejumlah baut pengunci Jembatan Cusa diduga hilang. Pasalnya, titik baut tak selaras dibandingkan bagian lainnya yang tampak terkunci rapi.
Material yang diduga hilang berupa mur besar dan sekrup. Paling banyak terjadi di sisi Cemara Ujung. Padahal, secara kasat mata, material tersebut tersambung dengan penyangga gantung jembatan.
Warga setempat, Aulia (46) mengeluhkan proyek jembatan yang dinilai kurang serius. Sejak dikerjakan hingga selesai, fasilitas yang digadang menjadi pemecah kemacetan kini malah seperti mangkrak.
Akibatnya, lama-kelamaan material penting seperti baut jadi sasaran oknum tak bertanggung jawab. Selain itu, dinding jembatan juga jadi target empuk vandalisme oleh tangan-tangan nakal.
Ia menilai, baut tak sepenuhnya terkunci dengan kuat, mengakibatkan material penting tersebut mudah jadi sasaran pencurian.
“Longgar duluan, bila terkunci kuat tidak gampang dibuka karena harus pakai alat untuk membukanya,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Sebagai warga sekitar, ia yakin terhadap kondisi tersebut. Karena sudah tinggal di sana jauh sebelum proyek Jembatan Cusa di mulai.
“Aku siang malam beraktivitas di sini, jadi lihat mulai longgar sampai bautnya sudah tidak ada,” ungkapnya.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Kartika Estaurina mengakui hilangnya baut pada pekerjaan infrastruktur jembatan menjadi perhatian serius.
Menurutnya, material tersebut menyangkut keamanan langsung pada struktur jembatan.
“Untuk lokasi Jembatan Cusa kita akan coba cek segera di lapangan terkait laporan ini,” jelasnya.
Kartika menambahkan, jembatan tersebut dibangun dengan pajak yang bersumber dari uang rakyat, tujuan memudahkan akses masyarakat.
Merusak dan mengambil komponen dari jembatan akan menghambat mobilitas ekonomi warga sekitar atau yang menggunakan.
Di sisi lain, Jembatan Cusa mengalami penundaan pembukaan. Hasil audit Inspektorat Banjarmasin sebelumnya menunjukkan terdapat revisi dalam perencanaannya.
Kondisi tersebut dinilai Pemerintah Kota Banjarmasin sebagai force majure atau keadaan di luar kendali.
Akibatnya, arus bawah air dari sisi Sungai Andai berpotensi mengancam dan menggerus material oprit jembatan di atasnya secara terus-menerus.
Dari sisi itu juga, tanah keras baru ditemukan setelah 30 meter dari permukaan tanah rawa.
Untuk itu, revisi perencanaan baru akan melibatkan tenaga ahli rawa atau ahli struktur tanah dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Meski demikian, penyelesaian Jembatan Cusa tahun ini kemungkinan terlambat. Kecuali, anggaran bisa disetujui dan terealisasi melalui pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP).
Pengamat juga sempat menyoroti dan memberikan kritik mendalam terkait dugaan lemahnya perencanaan awal proyek Jembatan Cusa.
Editor : Sutrisno