MARTAPURA – Beban baru menanti Kabupaten Banjar dalam proyek pengolahan sampah regional.
Setelah meneken perjanjian kerja sama (PKS) dengan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Banjar ditarget menyuplai 100 ton sampah per hari untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Banjarmasin Raya.
Angka itu bukan kecil. Pasokan tersebut menjadi syarat utama agar fasilitas pengolah sampah menjadi energi itu bisa beroperasi optimal.
Bupati Banjar H Saidi Mansyur memastikan daerahnya siap memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kami sudah menyatakan kesanggupan untuk memenuhi sekitar 100 ton per hari,” ujarnya usai kegiatan bersama Menteri Lingkungan Hidup RI, Selasa (21/4).
Namun, kesiapan itu diuji pada kondisi riil pengelolaan sampah di daerah. Mulai dari sistem pengumpulan, armada angkut, hingga kesiapan infrastruktur pendukung harus mampu menopang pasokan dalam jumlah besar secara konsisten.
Pemkab Banjar mengklaim sejumlah persiapan telah dilakukan. “Kami sudah menyiapkan anggaran, penyusunan regulasi, serta penyiapan sarana dan prasarana untuk menyuplai bahan baku PSEL nanti,” ujar Saidi
Koordinasi lintas daerah juga terus digenjot agar skema pengelolaan berjalan terintegrasi. Proyek PSEL sendiri didorong sebagai solusi atas persoalan sampah yang kian menumpuk di kawasan Banjarmasin Raya. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), fasilitas ini juga ditarget menghasilkan energi listrik dari sampah.
Saidi menyebut, proyek tersebut mendapat arahan langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga pemerintah daerah diminta bergerak cepat menyiapkan seluruh kebutuhan.
Konsistensi pasokan, kesiapan teknis, hingga pola pengelolaan sampah masyarakat akan sangat menentukan apakah target 100 ton per hari itu realistis atau justru menjadi beban baru bagi daerah.
Kendati demikian, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea, membenarkan adanya permintaan tersebut.
“Dalam perkembangannya, kebutuhan bahan baku PSEL ini masih belum mencukupi. Karena itu, kita diminta meningkatkan suplai menjadi 100 ton per hari,” ungkap Yudi.
Permintaan itu merupakan tindak lanjut kerja sama lintas daerah yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) antara Pemkab Banjar, Pemkot Banjarmasin, dan Pemkab Barito Kuala pada 9 April lalu.
Dalam skema tersebut, Banjar menjadi salah satu pemasok utama sampah untuk menopang operasional PSEL Banjarmasin Raya.
Yudi memastikan, dari sisi kapasitas, Banjar mampu memenuhi tambahan pasokan tersebut. Saat ini, produksi sampah di Kabupaten Banjar mencapai hampir 400 ton per hari. “Secara kemampuan kita bisa menyanggupi. Ini juga bagian dari upaya meningkatkan pengelolaan sampah agar lebih optimal,” katanya.
Penambahan suplai ini dinilai krusial. Pasokan bahan baku yang tidak stabil berpotensi menghambat proses pengolahan hingga produksi energi listrik dari sampah.
“Kalau pasokan bahan baku tidak terpenuhi, tentu operasional PSEL tidak akan optimal. Karena itu, dukungan daerah seperti Banjar menjadi sangat penting,” tutup Yudi.
Diketahui sebelumnya PSEL sendiri merupakan program strategis nasional yang bertujuan mengolah sampah menjadi energi listrik. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), program ini juga diharapkan menjadi solusi jangka panjang persoalan sampah perkotaan.
Editor : Arief