RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Persoalan sampah di Kota Banjarbaru masih menjadi pekerjaan besar.
Dari total timbulan sekitar 184 ton per hari, hanya sekitar 22 ton atau 12 persen yang berhasil ditangani. Sisanya, sekitar 163 ton atau 88 persen masih terbuang ke lingkungan.
Sorotan itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru, Senin (20/4/2026).
Ia menilai, pendekatan lama dalam pengelolaan sampah sudah tidak lagi efektif dan perlu segera ditinggalkan.
“Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pola kumpul-angkut-buang. Kuncinya ada di hulu, yaitu dari rumah tangga,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa perubahan dari sumbernya, volume sampah akan terus meningkat dan membebani sistem pengelolaan.
Karena itu, masyarakat harus menjadi aktor utama dalam upaya pengurangan dan pemilahan sampah.
Pemilahan dari rumah dinilai menjadi langkah paling strategis.
Dengan jumlah 91.368 kepala keluarga di Banjarbaru, lanjut dia, perubahan perilaku secara kolektif dinilai mampu menekan volume sampah secara signifikan.
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, tegas Hanif, Banjarbaru juga didorong menjadi barometer pengelolaan sampah di daerah.
Untuk itu, pemerintah mendorong gerakan Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas (KILAU EMAS) sebagai instrumen utama perubahan.
Program ini difokuskan pada pembiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Jika dijalankan secara konsisten, tidak hanya mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga berdampak langsung pada kualitas lingkungan kota.
Di sisi lain, penguatan sistem tetap dilakukan. Mulai dari optimalisasi TPS3R dan bank sampah, pembenahan sistem pengangkutan agar menjangkau layanan lebih luas, hingga pelibatan sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe.
Untuk memastikan seluruh program berjalan efektif di lapangan, pemerintah juga menyiapkan sistem monitoring dan evaluasi berbasis indikator kinerja yang terukur dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan tersebut, Banjarbaru juga ditargetkan meraih Adipura pada 2026.
Target ini menuntut percepatan perubahan, terutama dalam membangun kebiasaan pemilahan sampah di semua sektor, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha.
Hanif menilai, Banjarbaru memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan target tersebut.
Keterlibatan 595 ketua RT, 517 penyuluh dan pendamping keluarga, hingga sekitar 800 mahasiswa dari perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong gerakan secara masif.
Menurut dia, keberhasilan pengelolaan sampah ke depan tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang diangkut, tetapi dari seberapa besar yang berhasil dikurangi sejak dari sumbernya.
Persoalan ini, lanjutnya, tidak hanya menjadi beban, tetapi juga peluang untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Kalau kita bergerak bersama, krisis ini bisa kita ubah menjadi peluang. Kuncinya tetap sama: mulai dari rumah,” tegasnya.
Editor : Sutrisno