RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sempat terkena suspend atau dihentikan sementara operasionalnya perlahan kembali beroperasi lagi.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Banjarmasin, Cahyadi mengungkapkan terdapat tiga SPPG yang menyusul penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Tiga SPPG tersebut sudah beroperasi kembali mendistribusikan Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah yang sebelumnya juga sempat ikut terhenti.
Sebelumnya, terdapat 13 SPPG di Banjarmasin yang sempat terkena suspend sejak 31 Maret 2026. Dengan tiga beroperasi kembali, artinya sisa tersisa 10 SPPG yang masih terkena suspend. Tujuh belum memiliki SLHS, dan tiga lagi belum memiliki Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). “Yang masih di-suspend ini terus berproses agar dapat kembali berjalan seperti biasanya,” ujarnya, Jumat (10/4).
Ia menjelaskan, 10 SPPG yang masih terkena suspend masih mengurus dan menunggu penerbitan izin SLHS dan IPAL dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banjarmasin. Jika sudah melengkapi izin, SPPG tersebut harus mengurus lagi proses pencabutan henti operasional yang diajukan ke Badan Gizi Nasional (BGN).
Cahyadi mendorong agar SPPG baru alias ingin berdiri harus melengkapi kedua izin ini terlebih dulu. Supaya bisa berjalan lancar tanpa hambatan. “Baik syarat dari Dinkes sampai BGN itu sudah harus disiapkan,” tekannya.
Setiap SPPG mendistribusi sekitar 2.500 porsi MBG setiap hari. Suspend terhadap SPPG ini membuat kaget penerima yang didominasi oleh anak sekolah. “Kita sampaikan kepada pihak sekolah di hari pertama surat diterima. Memang terkesan mendadak,” jelasnya.
Cahyadi mengaku belum menerima informasi terkait penyaluran fasilitas motor listrik untuk program MBG yang diadakan BGN. “Mungkin masih terpusat di Jakarta atau daerah Jawa. Tempat kita belum ada diminta pendataan untuk itu,” katanya.
Menurutnya, kendaraan tersebut hanya ditujukan untuk operasional atau pengawasan ke lapangan. Terutama di daerah pedalaman yang sulit dijangkau.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief