BANJARBARU – Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru bersama Puskesmas Cempaka merampungkan skrining kesehatan terhadap para narapidana (Napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas II Banjarbaru, Rabu (8/4/2026).
Dari 162 orang yang diperiksa, ditemukan 4 orang reaktif HIV, 1 orang reaktif Hepatitis C, serta 20 orang diduga menderita Tuberkulosis (TBC).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Juhai Triyanti Agustina saat dikonfirmasi, Kamis (9/4/2026) mengatakan capaian skrining tersebut menjadi dasar penting untuk langkah penanganan lanjutan.
Dari target 200 WBP, sebanyak 162 orang berhasil menjalani pemeriksaan dalam kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari itu.
“Hasil skrining menunjukkan adanya beberapa kasus yang harus segera ditindaklanjuti secara medis, yakni 4 reaktif HIV, 1 reaktif Hepatitis C, dan 20 terduga TBC,” ujarnya.
Juhai menjelaskan seluruh temuan tersebut akan langsung ditangani melalui prosedur medis lanjutan.
"Untuk kasus HIV, empat WBP akan menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan reagen 1 dan 2 dalam kurun waktu 2–4 pekan. Jika hasilnya tetap reaktif, pasien akan segera mendapatkan terapi antiretroviral (ARV)," katanya.
Sementara satu WBP yang terdeteksi reaktif Hepatitis C, kata Juhai, dijadwalkan menjalani pemeriksaan viral load di RSUD Idaman Banjarbaru.
"Pemeriksaan ini akan dilakukan bersamaan dengan pasien Orang Dengan HIV (ODHIV) di lingkungan lapas," sebutnya.
Adapun 20 WBP yang terduga TBC akan menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM) guna memastikan diagnosis secara lebih akurat.
Pelaksanaan skrining ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Anggota Komisi IX DPR RI, Mariana serta Anggota Komisi XIII DPR RI, Rafiqie turut meninjau langsung kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap layanan kesehatan di lapas.
Melalui skrining ini, Pemkot Banjarbaru menargetkan deteksi dini penyakit menular di lingkungan tertutup seperti lapas dapat dilakukan lebih cepat.
"Sehingga penanganan medis ini bisa segera diberikan sekaligus menekan potensi penularan di antara warga binaan," harapnya.
Editor : Sutrisno