Sungai Dangkal, Saka Permai Langganan Tergenang

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 08:13 WIB
Warga Saka Permai menunjukkan kondisi Sungai Bali yang mengalami pendangkalan dan dipenuhi sedimentasi. Mereka berharap pemerintah segera melakukan pengerukan agar daya tampung air meningkat dan genangan di lingkungan permukiman dapat berkurang.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)
Warga Saka Permai menunjukkan kondisi Sungai Bali yang mengalami pendangkalan dan dipenuhi sedimentasi. Mereka berharap pemerintah segera melakukan pengerukan agar daya tampung air meningkat dan genangan di lingkungan permukiman dapat berkurang.(Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)

 

BANJARMASIN – Persoalan banjir dan genangan air kembali dikeluhkan warga. Kali ini datang dari kawasan Jalan Saka Permai. Kawasan tersebut sering menjadi langganan tergenang saat air pasang. Pendangkalan sungai dituding menjadi penyebab utama. Sungai Bali yang ada di kawasan tersebut kini tak lagi mampu menampung debit air secara optimal akibat tingginya sedimentasi.

Sumiati, warga setempat, mengungkapkan kondisi itu sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, genangan kerap terjadi hingga merendam akses jalan lingkungan.
“Kalau air pasang, di sini sering terendam. Banyak yang becek,” ujarnya.

Menurutnya, sungai yang berada di perbatasan Antasan Besar dan Belitung Selatan itu kini mengalami pendangkalan cukup parah. Dampaknya, aliran air tersendat dan mudah meluap ke permukiman, termasuk di wilayah RT 7 dan RT 9.

“Sedimennya sudah tinggi, jadi air cepat meluap. Harapan kami bisa segera dikeruk supaya aliran air lancar,” pintanya.

Keluhan serupa juga mencuat dalam kegiatan reses 
Merespon hal itu, anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi Gerindra, Gusti Yasni menyebut, persoalan banjir dan drainase masih salah satu yang banyak disampaikan masyarakat.

“Keluhan warga masih didominasi masalah banjir, terutama yang berkaitan dengan kondisi sungai dan drainase,” ujarnya.

Ia mengakui, banyak sungai di kawasan permukiman yang sudah lama tidak dilakukan pengerukan. Akibatnya, terjadi pendangkalan yang menghambat aliran air.
“Banyak sungai yang tidak pernah dikeruk. Ini yang membuat air tidak lancar dan mudah meluap,” jelasnya.

Menurutnya, pengerukan sungai bisa menjadi langkah cepat untuk mengurangi genangan. Namun, ia menekankan pentingnya penanganan yang lebih terencana agar persoalan banjir tidak terus berulang.

“Kalau hanya dikerjakan di satu titik, tidak akan menyelesaikan masalah. Harus ada kajian menyeluruh supaya penanganannya lebih fokus dan efektif,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini pemerintah melalui dinas terkait tengah menyusun kajian peta normalisasi sungai dan drainase. Dengan begitu, penanganan ke depan diharapkan tidak lagi bersifat parsial. 

Selain itu, ia juga menyoroti perlunya sinergi antarinstansi dalam pengelolaan sungai. Termasuk penataan bangunan yang berdiri di atas aliran sungai, yang dinilai turut menghambat arus air.

“Harus ada koordinasi antarinstansi, dan juga penataan di lapangan. Termasuk rumah-rumah yang berdiri di atas sungai, itu juga jadi perhatian,” pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
Banjir pengerukan sungai kawasan Sungai Banjarmasin