BANJARMASIN - Tumpukan sampah liar di Jalan Rajawali Raya, dekat Jalan Gubernur Soebarjo, Basirih Selatan, Banjarmasin, kian tak terkendali. Kondisi ini memicu keresahan warga, karena dampaknya yang semakin meluas terhadap lingkungan dan kesehatan.
Ketua RT setempat, Muhadi mengungkapkan bahwa lokasi tersebut sudah lama menjadi tempat pembuangan sampah ilegal. Namun belakangan, volumenya meningkat drastis. “Dulu hanya sedikit, sekarang makin banyak. Kebanyakan justru bukan warga sini yang buang,” ujarnya, Jumat (3/4).
Ironisnya, lahan tersebut bukan fasilitas umum, melainkan milik pribadi. Namun tetap saja dijadikan tempat pembuangan liar tanpa kendali.
Saat hujan turun, masalah semakin parah. Air bercampur sampah meluap hingga mencemari sungai di sekitarnya. Warga pun terdampak langsung, terutama dari serangan lalat. “Pintu belakang rumah saya saja tidak pernah dibuka, karena lalatnya banyak sekali. Warga di pinggir sungai juga masih pakai airnya, kasihan kalau tercemar,” keluh Muhadi.
Lurah Basirih Selatan, Soelkan membenarkan bahwa TPS liar ini sudah ada sejak lama. Awalnya hanya digunakan oleh warga sekitar dalam skala kecil. Namun situasi berubah sejak masa darurat sampah, terutama saat TPA Basirih sempat ditutup. Banyak warga dari luar wilayah diduga ikut membuang sampah ke lokasi tersebut. “Sekarang jadi seperti ini. Sudah kita koordinasikan, insya Allah Senin akan dilakukan gotong royong,” jelasnya.
Upaya penertiban selama ini tidak mudah. Selain keterbatasan, tindakan langsung di lapangan berisiko memicu konflik. “Dulu sempat pasang spanduk larangan, tapi hilang. Ini yang jadi dilema,” tambahnya
DLH Turun Tangan, Siapkan Penjagaan 24 Jam
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin kini mulai mengambil langkah tegas. Penanganan dilakukan bertahap dengan melibatkan lintas instansi.
Sejak Jumat hingga Minggu, pengawasan dilakukan melalui penjagaan petugas DLH dan monitoring Satpol PP. Spanduk larangan juga kembali dipasang di lokasi.
Puncaknya pada Senin (6/4) pukul 09.00 Wita, akan digelar gotong royong besar-besaran untuk membersihkan area tersebut. DLH menurunkan armada dan peralatan, dibantu Satpol PP, kecamatan, dan kelurahan. “Setelah itu kita dirikan pos penjagaan dengan tenda, lengkap dengan penerangan dari Dishub,” ujar Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Banjarmasin, Marzuki.
Penjagaan akan berlangsung selama 24 jam penuh selama tujuh hari, melibatkan personel gabungan. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi. Salah satu opsi yang disiapkan adalah menutup permanen TPS liar dan menggantinya dengan sistem layanan “Surung Sintak”.
DLH akan menyiapkan armada dan sistem pengangkutan baru. Sementara Satpol PP fokus pada penegakan aturan.
Pihak kecamatan mengoordinasikan lintas instansi. Sedangkan kelurahan berperan dalam sosialisasi hingga penyediaan titik layanan baru. “Termasuk mengarahkan pengelola gerobak sampah agar mendukung sistem baru,” pungkas Marzuki.
TPS Liar Cemari Sungai di Basirih Selatan
Kondisi Terkini :
* TPS liar di Jalan Rajawali Raya makin tak terkendali.
* Volume sampah meningkat drastis sejak TPA Basiri ditutup.
* Didominasi pembuang dari luar wilayah.
* Lokasi berada di lahan milik pribadi.
Dampak Lingkungan & Kesehatan :
* Air sampah meluber saat hujan.
* Mencemari sungai di sekitar permukiman.
* Lalat menyerbu rumah warga.
* Warga sekitar sungai tetap gunakan air tercemar.
Keluhan Warga :
* Bau dan lalat makin parah.
* Aktivitas rumah terganggu.
* Kekhawatiran terhadap kesehatan lingkungan.
* Spanduk larangan sering hilang.
* Penertiban rawan konflik.
Langkah Penanganan DLH :
* Pos penjagaan + tenda & penerangan.
* Dijaga 24 jam selama 7 hari.
* Pengawasan Jumat–Minggu oleh DLH & Satpol PP.
* Pemasangan ulang spanduk larangan.
* Gotong royong besar: Senin, 6 April 2026 (09.00 WITA).
* Turunkan armada & peralatan kebersihan.
* Libatkan Satpol PP, Dishub, kecamatan & kelurahan.
* Penutupan permanen TPS liar.
* Ganti dengan sistem layanan “Surung Sintak”.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief