BANJARMASIN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai diwaspadai. Prediksi musim kemarau tahun ini yang lebih kering dan panjang membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Kepala BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Meski awalnya terjadi di wilayah Nusa Tenggara, dampaknya akan merata ke seluruh Indonesia, termasuk Banjarmasin.
“Karena itu, kami sudah menindaklanjuti surat kesiapsiagaan dari provinsi. Per 1 April, Wali Kota juga sudah menandatangani imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi kemarau panjang,” ujar Thamrin, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Ekspor CPO Menguat, Nilai Tembus US$4,69 Miliar di Awal Tahun 2026
Belajar dari pengalaman, pada 2023 lalu terdapat 41 titik kebakaran lahan di Banjarmasin. Sementara, pada 2024 dan 2025 nihil kejadian karena kondisi kemarau basah. Namun, tahun ini kondisi diprediksi berbeda sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan.
“Jangan sampai terulang seperti 2023. Kita berharap tidak terjadi, tapi tetap harus siap, termasuk kemungkinan mendirikan posko jika situasi meningkat,” tegasnya.
BPBD juga telah memetakan sejumlah wilayah rawan, terutama lahan kosong yang ditumbuhi ilalang kering. Kawasan tersebut banyak ditemukan di Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Utara, khususnya di daerah perbatasan seperti Sungai Andai hingga Sungai Gampa yang berbatasan dengan Barito Kuala (Batola), serta Tanjung Pagar yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar.
Baca Juga: Dorong Kemandirian Energi, PLN Dukung Konversi Kendaraan Listrik di Kalimantan Selatan
“Kalau lahan sudah kering, sangat mudah terbakar. Ini yang menjadi fokus pengawasan kami,” jelasnya.
Untuk pencegahan, BPBD mengeluarkan sejumlah imbauan. Di antaranya tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area kering. Masyarakat juga diminta bergotong royong membersihkan semak belukar dan aktif melaporkan potensi kebakaran.
“Peran masyarakat sangat penting. Jangan sampai kelalaian kecil memicu kebakaran besar,” katanya.
Dari sisi kesiapan, BPBD memastikan personel siaga 24 jam dengan pemantauan intensif terhadap potensi lahan kering. Peralatan seperti pompa portable juga telah disiapkan, termasuk kolaborasi dengan Damkar dan relawan.
Baca Juga: Jangan Panic Buying, Pertamina Pastikan Harga BBM di Kalsel Tidak Naik
Tak hanya itu, BPBD juga akan menggelar forum diskusi bersama TNI, Polri, dan instansi terkait untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau.
Ancaman lain yang juga harus diwaspadai adalah asap kiriman dari daerah sekitar. Ia menyebut, Banjarmasin berpotensi terdampak asap dari Batola maupun Kabupaten Banjar jika terjadi karhutla di wilayah tersebut.
“Seperti 2023 lalu, dampak asap cukup terasa. Maka kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) agar puskesmas siap menangani kasus ISPA,” ungkapnya.
Baca Juga: Menuju Tanah Suci, Jemaah Haji HSU Dapat Pesan Khusus Bupati H Sahrujani
Jika kondisi memburuk, penyesuaian aktivitas masyarakat juga akan dipertimbangkan, termasuk pengaturan jam sekolah dan pembagian masker.
“Intinya, kita ingin semua pihak siap. Karena bencana bisa datang kapan saja, dan penanganannya harus bersama-sama,” pungkas Thamrin.
Editor : Fauzan Ridhani