BANJARMASIN – Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Banjarmasin pada Selasa (31/3) tadi, memicu perhatian publik. Kondisi ini diduga dipicu isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cepat menyebar dan memicu aksi panic buying.
Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Muhammad Isnaini menilai fenomena tersebut lebih disebabkan faktor psikologis masyarakat ketimbang persoalan distribusi. Menurutnya, derasnya arus informasi dari media sosial hingga pemberitaan global kerap memicu reaksi berlebihan. Padahal belum tentu kebenarannya terverifikasi. “Kalau menerima informasi, jangan langsung panik. Cek dulu kebenarannya,” ujarnya, Rabu (1/4).
Isnaini menegaskan, pemerintah telah memberikan jaminan terkait ketersediaan BBM. Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang, dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru memperparah situasi. “Kita melihat ini murni efek kepanikan. Selama ada jaminan dari pemerintah, tidak perlu khawatir berlebihan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, jika terjadi kenaikan BBM, dampaknya akan luas. Mulai dari biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok. Karena itu, ia meyakini pemerintah tidak akan mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. “Masyarakat jangan terpancing isu. Tunggu keputusan resmi,” imbaunya.
Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen (YLK) Kalsel, Akhmad Murjani menilai kepadatan di SPBU juga dipengaruhi faktor teknis di lapangan. Menurutnya, lokasi SPBU di kawasan Sabilal Muhtadin yang berada di persimpangan, dekat jembatan, serta berdekatan dengan akses sekolah, turut memicu kemacetan, terutama saat jam sibuk. “Bukan hanya karena isu BBM, tapi juga karena faktor lalu lintas dan aktivitas masyarakat,” jelasnya.
Murjani juga menegaskan, pemerintah telah memastikan tidak ada perubahan harga BBM per 1 April 2026. Artinya, isu kenaikan harga, khususnya BBM subsidi tidak perlu dikhawatirkan.
Selain itu, peningkatan jumlah kendaraan di Kalsel turut berkontribusi terhadap antrean di SPBU. Meski demikian, distribusi BBM dipastikan tetap aman. “Pertamina menjamin stok tersedia. Tidak ada kelangkaan,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap bijak menggunakan energi, dan tidak terpancing isu yang belum jelas kebenarannya agar kondisi tetap terkendali.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : AriefSumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak