BANJARMASIN - Sampah kiriman dari hulu Sungai Martapura kembali menjadi persoalan serius bagi Kota Banjarmasin. Material seperti kayu, ranting, hingga tanaman air terus terbawa arus dan menumpuk di wilayah hilir.
Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah mengatakan fenomena ini terjadi berulang setiap tahun. Tentu membutuhkan penanganan bersama lintas daerah. “Kita terus tangani agar tidak menumpuk. Tapi ini persoalan berulang, sehingga perlu kerja sama dengan daerah hulu, seperti Kabupaten Banjar,” ujarnya, Selasa (31/3).
Saat ini, sampah ditangani menggunakan trash boom di kawasan Pusat Daur Ulang (PDU) Benua Anyar untuk mencegah dampak terhadap jembatan dan infrastruktur kota. Namun, posisi Banjarmasin sebagai daerah hilir membuat kota ini tidak bisa menghindari kiriman sampah. Jika dibiarkan, kondisi ini tak hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas air baku bagi perusahaan air minum.
“Banjarmasin ini di hilir. Kita tidak bisa menolak, tapi perlu dukungan dari daerah lain dan pemerintah provinsi. Jangan sampai kita jadi tempat terakhir pembuangan sampah,” tegasnya.
Ke depan, Pemko Banjarmasin akan mengoptimalkan pengolahan sampah kiriman melalui Dinas Lingkungan Hidup agar tidak seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR juga telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah terkait untuk mencari solusi bersama. Pasalnya, sampah kiriman ini sudah mulai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi sungai di kawasan Sungai Gampa.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief