Rapat itu fokus pada pembahasan strategi pengelolaan sampah di Kota Banjarmasin ke depan, isu yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Tezar mengungkapkan, dirinya sengaja meminta waktu kepada wali kota untuk mengumpulkan seluruh jajaran DLH sekaligus menyamakan persepsi sejak awal.
“Saya ingin seluruh jajaran mendengar langsung arahan Wali Kota, termasuk dari pihak provinsi. Supaya langkah kita ke depan jelas dan terarah,” ujar pria yang biasa disapa Tezar, Jumat (25/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah program strategis langsung dibedah. Mulai dari pengembangan underground refuse system, penguatan pemilahan sampah dari sumber, hingga optimalisasi TPS 3R dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Tak hanya itu, penguatan sarana pengolahan juga menjadi perhatian. DLH akan mendorong optimalisasi rumah pilah, rumah kompos, serta pemanfaatan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih.
Menurutnya, pihaknya berencana mengajukan surat ke Kementerian Lingkungan Hidup (LH) untuk mengoptimalkan lahan yang masih tersedia di TPA tersebut.
“Pemanfaatannya bukan lagi untuk membuang sampah, tetapi untuk pemilahan, pencacahan, hingga pengolahan melalui rumah kompos,” jelasnya.
Sementara itu, untuk penanganan residu, DLH masih akan mengarahkan ke Pusat Daur Ulang (PDU). Langkah ini menjadi solusi sementara sembari memperkuat sistem pengolahan yang lebih terpadu.
Di sisi lain, edukasi masyarakat juga akan diperkuat. DLH berencana mengaktifkan kembali sekitar 1.500 agen 3R yang tersebar di seluruh kota.
“Langkah ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku warga agar mulai memilah sampah sejak dari rumah. Terutama sampah organik yang bisa dikelola mandiri, sementara sampah anorganik tetap ditangani melalui TPS dan fasilitas pengolahan,” tutupnya.
Editor : Sutrisno