Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kasus Campak Terus Bertambah, Cakupan Imunisasi Rendah Picu Risiko KLB di Banjarbaru

Sheilla Farazela • Kamis, 26 Maret 2026 | 15:09 WIB

Ilustrasi penyakit Campak (freepik)
Ilustrasi penyakit Campak (freepik)

BANJARBARU – Jumlah suspek kasus campak di Kota Banjarbaru terus bertambah. Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), jumlah kasus melonjak pada pekan ke-10 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru Dr. Siti Ningsih mengatakan, pada pekan ke-9 tercatat 2 kasus suspek campak dengan rentang usia 8 bulan hingga 22 tahun. 

"Angka tersebut meningkat menjadi 7 kasus suspek campak pada pekan ke-10 dengan usia penderita antara 10 bulan hingga 46 tahun," sebutnya.

Sementara pada pekan ke-11, kata dr. Siti  kasus menurun menjadi 3 dengan rentang usia 5 bulan hingga 19 tahun. “Puncak kasus terjadi pada minggu ke-10, kemungkinan besar berkaitan dengan tingginya mobilitas dan kerumunan masyarakat selama lebaran,” ujarnya.

Secara epidemiologis, menurutnya kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan penularan campak dalam periode pasca hari raya. 

Distribusi kasus yang mencakup bayi hingga orang dewasa mengindikasikan rendahnya kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat.

Hal itu diperkuat dengan rendahnya cakupan imunisasi measles-rubella (MR) di Banjarbaru. 

Hingga Februari 2026, cakupan imunisasi MR dosis pertama (MR1) baru mencapai 13 persen, sementara imunisasi MR lengkap sebesar 12,3 persen.

“Cakupan imunisasi yang rendah menjadi faktor utama tingginya risiko penularan. Ini juga membuka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak,” jelasnya.

Dari sisi penularan, virus campak tergolong sangat menular dengan angka reproduksi dasar mencapai 12 hingga 18. 

"Artinya, satu penderita dapat menularkan virus kepada 12 sampai 18 orang lain, terutama pada populasi yang belum memiliki kekebalan," jelasnya.

Kelompok paling rentan meliputi bayi yang belum mendapatkan imunisasi, serta anak dan orang dewasa dengan imunisasi yang belum lengkap. 

"Sementara faktor lingkungan seperti kerumunan saat Lebaran, mobilitas tinggi, dan kontak erat antar keluarga turut mempercepat penyebaran," sebutnya.

Kombinasi faktor tersebut, kata dr. Siti memicu transmisi cepat dan terbentuknya klaster kasus lintas usia. 

Meski terjadi penurunan pada minggu ke-11, kondisi ini dinilai masih berisiko berkembang jika tidak ditangani secara cepat. 

Pemerintah daerah pun diminta memperkuat langkah antisipasi, mulai dari peningkatan surveilans, penyelidikan epidemiologi, hingga pelaksanaan imunisasi respons secara cepat guna mencegah penyebaran lebih luas.

"Masyarakat diimbau tetap waspada namun tidak panik. Campak merupakan penyakit akibat virus yang umumnya dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting disease) jika daya tahan tubuh baik," lanjutnya.

“Jika ada anggota keluarga yang terkena campak, sebaiknya batasi kontak dengan orang lain agar tidak menularkan. Jaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup dan asupan gizi yang baik,” tambahnya.

Selain itu, masyarakat yang belum melengkapi imunisasi disarankan segera melakukannya. 

"Imunisasi berfungsi membentuk kekebalan tubuh sehingga dapat mengurangi risiko penularan maupun keparahan penyakit jika terpapar," pungkasnya 

Sekadar mengetahui, berdasarkan data Suspek Campak, Positif Campak, dan Discarded Campak yang Dilaporkan pada 10 Puskesmas dan 9 Rumah Sakit di Kota Banjarbaru Tahun 2026, pekan ke-1 sampai dengan ke-10 (14 Maret 2026)

Terdapat 60 orang yang sakit, sudah 22 spesimen yang diperiksa di laboratorium untuk pemastian. Status kasus adalah: 29 suspek, 3 positif Campak, dan 19 discarded

Editor : Sutrisno
#banjarbaru #Campak