Salah satunya dilakukan oleh Ridho, warga Sungai Lulut, Banjarmasin Timur yang setiap tahun, tepatnya pasca lebaran mengaku selalu rutin berziarah ke makam para ulama di Kota Seribu Sungai.
Ridho sekeluarga tiba di tempat wisata religi, Kompleks Makan Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Selasa (24/3/2026) pagi menggunakan kelotok.
Kompleks Makan Sultan Suriansyah hanya berseberangan jalan dengan dermaga di Sungai Kuin, salah satu sungai yang dapat tembus ke Sungai Martapura.
Menurutnya, jalur sungai lebih mudah ditembus dan memberi nuansa yang lebih santai dibandingkan pergi menggunakan mobil dan sepeda motor yang masih mendominasi transportasi saat lebaran dan pasca lebaran.
“Karena di Sungai Lulut mendapat carteran kelotok tidak terlalu sulit, selain ke Sultan Suriansyah kami juga bisa ke tempat lain untuk ziarah dan tidak akan bertemu macet,” ujar Ridho.
Ia menyebut, Kompleks Makam Sultan Suriansyah bukan satu-satunya jadi tempat yang didatangi, dengan menggunakan kelotok, Ridho mengaku juga bisa tembus sampai ke Kubah Habib Basirih di Banjarmasin Selatan.
Di sisi lain, pekerja kelotok, Iyas (50) mengaku di momen lebaran seperti ini permintaan untuk carter atau sewa kelotok peziarah sedang ramai-ramainya.
Rombongan yang ia bawa sendiri bukan hanya dari Banjarmasin, melainkan juga berasal dari Martapura, Kabupaten Banjar.
“Melayani carteran ziarah atau haul itu biasanya paling ramai dibanding momen lain,” kata Iyas.
Untuk carter kelotok sendiri, ia mematok harga mulai dari Rp400 hingga Rp3 juta. Tergantung jarak tempuh dan permintaan rombongan yang ingin dibawakan ke tempat yang sudah disepakati dalam negosiasi.
Selain Ridho, juga ada Wati (66) warga Jalan Trans Kalimatan, Kabupaten Barito Kuala, menurutnya, momen pasca lebaran selain bersilaturahmi juga bisa dimanfaatkan untuk berziarah ke makam para ulama, seperti Sultan Suriansyah.
Wati mengatakan, selalu beselalu mendatangi tempat ziarah tak hanya satu, melainkan berlanjut ke tempat seperti Kubah Guru Zuhdi ataupun Kubah Habib Basirih bersama keluarga.
“Bukan hanya saya, tapi kebiasaan peziarah itu sekali jalan bisa beberapa tempat yang didatangi,” ungkapnya.
Di Kompleks Makam Sultan Suriansyah tampak peziarah masuk dan keluar silih berganti. Di depan gerbang, mereka sudah disambut oleh banyaknya jajanan hingga penjual kembang.
Salah satu pedagang kembang, Diah (41) dari Alalak, Kabupaten Barito Kuala menyebut sehari setelah Idulfitri hingga beberapa hari setelahnya terasa memang seperti musim ziarah.
Dari momen tersebut, ia mengaku dapat kecipratan rejeki lebih dari hasil berjualan kembang dibandingkan hari biasa ataupun pada saat hari libur akhir pekan.
“Yang ramai itu biasanya seperti sekarang atau hari libur akhir pekan, atau mendekati hari saat Momen 5 Rajab di Martapura, biasanya jemaah dari pelabuhan mampir berziarah di sini dulu,” pungkas Diah.
Editor : Sutrisno