Hingga 15 Maret, nilai transaksi sudah menembus Rp13,7 miliar. Tapi angka itu diprediksi belum final. Sebab, puncak keramaian biasanya terjadi menjelang penutupan pada 18 Maret.
“Dengan antusiasme masyarakat yang terus tinggi, kami optimistis total perputaran uang bisa mencapai sekitar Rp15 miliar hingga penutupan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Ibnu Sabil, Kamis (19/3/2026).
Dibandingkan 2025 yang tercatat Rp12,3 miliar, capaian transaksi di Pasar Wadai pada tahun ini sangat bagus. Lonjakan tersebut tak lepas dari tingginya minat masyarakat terhadap kuliner tradisional. Aneka wadai khas Banjar hingga makanan kekinian menjadi daya tarik utama.
Tak hanya sekadar tempat berburu menu berbuka, Pasar Wadai juga menjadi ladang rezeki bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mendongkrak penjualan.
Menurut Sabil, meningkatnya transaksi juga mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Kondisi ini menjadi indikator positif di tengah dinamika ekonomi.
“Pasar Wadai ini bukan hanya tradisi, tapi juga penggerak ekonomi rakyat,” tegasnya.
Keberadaan event tahunan ini dinilai berhasil memadukan unsur budaya, pariwisata, dan ekonomi dalam satu kawasan. Tak heran jika setiap tahunnya selalu dinanti masyarakat.
Pemko pun berharap Pasar Wadai Ramadan terus berkembang dan memberikan dampak berkelanjutan bagi perekonomian daerah.
“Semoga kegiatan ini terus memberi manfaat dan keberkahan, baik bagi pedagang maupun pengunjung,” pungkasnya.
Editor : Sutrisno